Kategori: Reiligi

  • Kapolda PBD Pererat Silaturahmi dengan Jamaah Lewat Subuh Keliling di Masjid Raodah

    Melanesiatimes.com, Kota Sorong PBD – Kapolda Papua Barat Daya, Brigjen Pol. Dr. Hengki Haryadi, S.I.K., M.H., melaksanakan kegiatan Subuh Keliling di Masjid Raodah, Kilometer 8, Kota Sorong, Kamis (22/10/2026), pukul 04.15 WIT.

    Kegiatan ini menjadi salah satu upaya Polri mempererat hubungan dengan masyarakat sekaligus menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

    Kegiatan tersebut diikuti sejumlah pejabat utama Polda Papua Barat Daya, yakni Irwasda, Dirintelkam, Dirlantas, dan Dirpolairud, bersama jamaah Masjid Raodah.

    Melalui kegiatan keagamaan ini, Kapolda ingin membangun komunikasi yang lebih dekat dengan masyarakat. Kehadiran langsung pimpinan kepolisian di tengah jamaah juga menjadi ruang untuk memperkuat silaturahmi, menyerap aspirasi, serta mendengarkan berbagai masukan terkait persoalan keamanan di lingkungan masyarakat.

    Selain mempererat hubungan kelembagaan, Subuh Keliling juga menjadi sarana untuk menumbuhkan kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban. Masyarakat diharapkan turut berperan aktif menciptakan lingkungan yang aman, damai, dan kondusif di wilayah Papua Barat Daya.

    Kapolda bersama jajaran juga mendorong masyarakat untuk terus menjaga toleransi antarumat beragama dan memelihara kerukunan di tengah keberagaman. Sinergi antara Polri, tokoh agama, dan seluruh elemen masyarakat dinilai penting untuk menjaga stabilitas keamanan daerah.

    Kegiatan ini sekaligus mencerminkan pendekatan pelayanan kepolisian yang humanis, dengan mengedepankan komunikasi, kebersamaan, dan kedekatan dengan masyarakat.

    Dengan adanya kegiatan Subuh Keliling secara langsung di tengah masyarakat, diharapkan kepercayaan publik terhadap Polri semakin meningkat. Hubungan yang harmonis antara kepolisian dan masyarakat juga diharapkan mampu memperkuat upaya pencegahan gangguan kamtibmas sejak dini.

    Informasi kegiatan tersebut disampaikan oleh Kasubbid PID Polda Papua Barat Daya, Kompol Jenny S.A. Hengkelare.

  • Gema Shalawat Warnai Maulid Nabi Muhammad SAW 1448H di Masjid Al-Azhar Sorong

    Melanesiatimes.com, Kota Sorong — Pengurus Masjid Al-Azhar Kota Sorong menggelar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H tahun 2026 sebagai momentum untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW sekaligus memperkuat ukhuwah dan kepedulian di tengah berbagai tantangan zaman.

    Kegiatan yang mengusung tema “Meneladani Akhlak Rasulullah SAW di Tengah Tantangan Zaman dan Memperkuat Ukhuwah serta Menebarkan Kepedulian” tersebut berlangsung di Masjid Al-Azhar Kota Sorong, Jalan Baru, pada Ahad (30/8/2026).

    Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini dihadiri sejumlah tokoh agama dan masyarakat, di antaranya Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Papua Barat Daya, Ustadz Hi. Kisman Rahayaan, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Sorong, Ustadz Hi. Abdul Manan Fakaubun, serta Pimpinan Pondok Modern Boarding School Al-Ghuroba Kabupaten Sorong, Ustadz Abdul Aziz Achirussabhi.

    Turut hadir Anggota DPRK Kota Sorong, Syarif Nari, bersama jamaah dan masyarakat yang mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh khidmat.

    Kegiatan dilaksanakan usai Sholat Dzuhur dan diawali dengan pembacaan salawat yang dibawakan oleh anak-anak TPA Al-Azhar. Suasana semakin khidmat dengan dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an.

    Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Al-Azhar. Dalam sambutannya, disampaikan pentingnya menjadikan peringatan Maulid Nabi bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi sebagai momentum untuk mengimplementasikan keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.Maulid Nabi Muhammad di Masjid Al-Azhar Sorong, Momentum Meneladani Akhlak Rasulullah

    Puncak kegiatan diisi dengan ceramah agama yang disampaikan oleh Ustadz Abdul Aziz Achirussabhi. Dalam tausiyahnya, ia mengajak jamaah untuk senantiasa meneladani akhlak Rasulullah SAW, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan di era modern.

    Menurutnya, keteladanan Rasulullah SAW dapat menjadi pedoman dalam membangun kehidupan yang harmonis, mempererat persaudaraan sesama umat, serta meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.

    Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Al-Azhar Kota Sorong tersebut diharapkan dapat menjadi sarana memperkuat nilai-nilai keislaman sekaligus mempererat silaturahmi antara pengurus masjid, tokoh agama, jamaah dan masyarakat.

  • Harumkan Nama Papua Barat Daya, Syarah dan Abdul Rauf Raih Juara III MTQ KORPRI Tingkat Nasional

    Melanesiatimes.com, Kota Sorong — Provinsi Papua Barat Daya kembali mengukir prestasi membanggakan dalam ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) VIII KORPRI Tingkat Nasional Tahun 2026 yang berlangsung di Provinsi Sulawesi Selatan, 23–30 Agustus 2026.

    Dalam ajang dua tahunan yang diikuti 117 kementerian, lembaga, dan pemerintah provinsi tersebut, khafilah Papua Barat Daya berhasil membawa pulang dua peringkat ketiga dan satu peringkat Harapan II.

    Prestasi pertama diraih Syarah Yunita, S.Pd., ASN pada MTsN Kota Sorong, yang berhasil menempati peringkat ketiga pada cabang Tilawah Al-Qur’an Puteri.

    Sementara itu, Abdul Rauf, S.Pd., ASN pada Dinas Pendidikan Kabupaten Sorong Selatan, juga berhasil mengharumkan nama Papua Barat Daya setelah meraih peringkat ketiga pada cabang Hifzhil Al-Qur’an Surah Al-Baqarah.

    Selain itu, Papua Barat Daya turut meraih prestasi pada cabang Haflah Al-Qur’an Puteri yang diikuti oleh Maryam, S.Pd.I., dan Ni’mawati Rahangmetan. Maryam merupakan guru pada MAN Kota Sorong, sedangkan Ni’mawati Rahangmetan merupakan ASN pada Kementerian Agama Kota Sorong. Keduanya berhasil membawa Papua Barat Daya meraih peringkat Harapan II.

    Keberhasilan tersebut menjadi catatan positif sekaligus peningkatan prestasi kafilah Papua Barat Daya dibandingkan keikutsertaan sebelumnya pada MTQ KORPRI tingkat nasional dua tahun lalu di Palangkaraya, Provinsi Kalimantan Tengah.

    Keikutsertaan pada MTQ VIII KORPRI Tingkat Nasional 2026 juga menjadi kali kedua bagi Provinsi Papua Barat Daya. Pencapaian ini menunjukkan semakin berkembangnya kemampuan ASN Papua Barat Daya dalam bidang seni baca Al-Qur’an, hafalan, serta penghayatan terhadap nilai-nilai Al-Qur’an.

    MTQ KORPRI Tingkat Nasional tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga merupakan wadah aktualisasi aparatur sipil negara (ASN) dalam meningkatkan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam menjalankan tugas sebagai abdi negara.

    Khafilah Provinsi Papua Barat Daya dalam ajang nasional tersebut turut didampingi Anggota DPRD Provinsi Papua Barat Daya, Abdul Gafur, SE. Dukungan dan pendampingan tersebut menjadi bagian penting dalam memberikan motivasi kepada para peserta yang membawa nama Papua Barat Daya di tingkat nasional.

    Penyelenggaraan MTQ VIII KORPRI Tingkat Nasional 2026 secara resmi ditutup oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Nasaruddin Umar. Penutupan menjadi penanda berakhirnya rangkaian perlombaan yang mempertemukan ASN dari berbagai kementerian, lembaga, dan provinsi di Indonesia.

    Dalam kegiatan tersebut turut hadir Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda. Provinsi Maluku Utara selanjutnya dipercaya menjadi tuan rumah MTQ KORPRI Tingkat Nasional pada tahun 2028.

    Raihan dua peringkat ketiga dan satu peringkat Harapan II menjadi bukti bahwa Provinsi Papua Barat Daya mampu bersaing di tingkat nasional. Prestasi tersebut sekaligus menjadi motivasi bagi para ASN di Papua Barat Daya untuk terus meningkatkan kemampuan, mengembangkan potensi, serta mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam pengabdian kepada masyarakat dan negara.

  • Maulid Nabi SAW 1448 H, Penasehat BKMT Kota Sorong Ajak Perkuat Iman, Karakter dan Toleransi

    Melanesiatimes.com, Kota Sorong — Penasehat Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kota Sorong, Jemima Elisabeth Lobat, mengajak keluarga besar BKMT menjadikan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah sebagai momentum memperkuat keimanan, akhlak, karakter, toleransi, dan kepedulian sosial.

    Pesan tersebut disampaikan Jemima Elisabeth Lobat dalam sambutannya pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H yang digelar di Gedung ACC Masjid Raya Al-Akbar Papua Barat Daya, Selasa (25/8/2026).

    Dalam kesempatan tersebut, Jemima menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada keluarga besar BKMT Kota Sorong yang telah menyelenggarakan kegiatan keagamaan tersebut.

    Menurutnya, peringatan Maulid Nabi tidak semestinya hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial, tetapi harus menjadi momentum untuk melakukan refleksi spiritual, moral, sosial, dan kemanusiaan.

    “Atas nama pribadi, saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada keluarga besar BKMT Kota Sorong yang telah menyelenggarakan kegiatan yang sangat penting ini. Peringatan Maulid bukan sekadar kegiatan seremonial keagamaan, tetapi merupakan momentum untuk melakukan refleksi spiritual, moral, sosial, dan kemanusiaan,” ujar Jemima.

    Ia mengatakan, Nabi Muhammad SAW merupakan sosok yang tidak hanya dikenal sebagai pemimpin umat, tetapi juga sebagai teladan dalam membangun kehidupan yang berlandaskan kejujuran, kasih sayang, keadilan, kesederhanaan, ilmu pengetahuan, serta penghormatan terhadap martabat manusia.

    Nilai-nilai tersebut, kata Jemima, memiliki dimensi universal dan dapat menjadi sumber inspirasi bagi seluruh masyarakat dalam membangun kehidupan bersama yang harmonis.

    Ia menekankan bahwa kemajuan suatu masyarakat tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi, perkembangan teknologi, pembangunan infrastruktur maupun kemampuan birokrasi. Lebih dari itu, kemajuan juga sangat bergantung pada kualitas manusia, karakter, integritas, etika, dan kemampuan menjaga hubungan sosial.

    “Pembangunan tidak boleh hanya membangun fisik, tetapi juga harus membangun manusia. Ilmu pengetahuan memberikan kemampuan kepada manusia untuk mengetahui apa yang dapat dilakukan. Tetapi moral dan nilai-nilai kemanusiaan memberikan arah mengenai apa yang seharusnya dilakukan,” jelasnya.

    Jemima juga menyoroti perkembangan teknologi digital yang membawa banyak manfaat sekaligus menghadirkan tantangan baru bagi masyarakat. Arus informasi yang begitu cepat, menurutnya, harus diimbangi dengan kemampuan masyarakat dalam menyaring dan menggunakan informasi secara bijak.

    Karena itu, ia mendorong lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kecerdasan moral, empati, toleransi, disiplin dan kepedulian terhadap sesama.

    “Kita membutuhkan generasi yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya secara bertanggung jawab. Kita membutuhkan generasi yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki empati, toleransi, disiplin, dan kepedulian terhadap sesama,” tegas Jemima.

    Menurutnya, keteladanan Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa kekuatan masyarakat tidak hanya lahir dari kekuasaan, tetapi juga dari kepercayaan. Demikian pula kecerdasan harus berjalan bersama kebijaksanaan, sementara keberhasilan pribadi harus diiringi kemampuan memberikan manfaat bagi orang lain.

    Dalam konteks Kota Sorong yang memiliki masyarakat dengan latar belakang agama, suku dan budaya yang beragam, Jemima mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat persatuan dan toleransi.

    “Kita boleh berbeda dalam keyakinan, tetapi kita dipersatukan oleh nilai-nilai kemanusiaan. Kita boleh berbeda dalam tradisi, tetapi kita dapat berjalan bersama dalam membangun kedamaian,” katanya.Maulid Nabi SAW 1448 H, Penasehat BKMT Kota Sorong Ajak Perkuat Iman, Karakter dan Toleransi

    Ia berharap keberagaman yang ada di Kota Sorong dapat terus menjadi kekuatan dalam membangun daerah. Menurutnya, kehidupan masyarakat yang ideal adalah masyarakat yang religius dalam kehidupan, toleran dalam pergaulan, rasional dalam berpikir dan mengedepankan semangat gotong royong.

    Jemima juga memberikan perhatian khusus terhadap peran BKMT Kota Sorong dalam kehidupan masyarakat. Ia berharap BKMT tidak hanya menjadi wadah pembinaan keagamaan, tetapi dapat berkembang menjadi ruang pembelajaran keluarga, pemberdayaan perempuan, pendidikan karakter dan penguatan kehidupan sosial.

    “Peran perempuan sangat strategis dalam membangun peradaban. Keluarga adalah ruang pendidikan pertama, dan dari keluarga pula karakter generasi masa depan dibentuk,” ujarnya.

    Menurut Jemima, memperkuat kualitas perempuan dan keluarga berarti turut memperkuat kualitas generasi serta masa depan daerah. Karena itu, ia mengajak BKMT menjadikan majelis taklim sebagai ruang yang mempertemukan iman dengan ilmu, spiritualitas dengan intelektualitas, serta kesalehan pribadi dengan kepedulian sosial.

    Ia menegaskan bahwa keberagamaan tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga harus diwujudkan melalui hubungan yang baik dengan sesama manusia dan lingkungan.

    Pada momentum Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H tersebut, Jemima juga mengajak seluruh peserta untuk melakukan introspeksi diri dengan mempertanyakan sejauh mana nilai-nilai keteladanan Rasulullah telah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    “Sudahkah kita menjadi manusia yang lebih jujur? Sudahkah kita lebih menghargai perbedaan? Sudahkah kita lebih peduli terhadap mereka yang membutuhkan? Sudahkah ilmu yang kita miliki memberikan manfaat bagi masyarakat?” tuturnya.

    Ia berharap hikmah Maulid Nabi dapat mendorong masyarakat Kota Sorong untuk membangun kehidupan yang lebih damai, adil, berilmu, berakhlak dan saling menghormati.

    “Mari kita rawat kebersamaan di Kota Sorong. Mari kita jadikan perbedaan sebagai kekuatan. Mari kita bangun generasi yang beriman, berilmu, berkarakter dan mampu menghadapi perubahan zaman,” ajaknya.

    Jemima menambahkan, pembangunan masyarakat harus tetap berpijak pada nilai-nilai moral dan kemanusiaan.

    “Mari kita wujudkan masyarakat yang maju tanpa kehilangan jati diri, modern tanpa kehilangan moralitas, serta berkembang tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan,” pungkasnya.

    Menutup sambutannya, Penasehat BKMT Kota Sorong itu menyampaikan selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah kepada seluruh umat Islam, khususnya keluarga besar BKMT Kota Sorong.

    Ia berharap peringatan tersebut membawa kedamaian, memperkuat persaudaraan, meningkatkan kualitas kehidupan beragama, serta menginspirasi seluruh masyarakat untuk terus menebarkan kebaikan dan memberikan manfaat bagi sesama.

  • 81 Tahun Indonesia Merdeka, BKPRMI Dorong Gerakan Nasional Merdeka dari Buta Aksara Al-Qur’an

    Melanesiatimes.com, Jakarta – Memasuki 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, persoalan literasi Al-Qur’an masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian bersama. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, pendidikan dan akses informasi, kemampuan membaca Al-Qur’an dinilai perlu ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan manusia Indonesia yang berkarakter dan berintegritas. Rabu (19/8/2026).

    Hal tersebut disampaikan Ketua Umum DPP Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI), H. Nanang Mubarok, S.H.I., M.Sos., CPHCM, CPE, CPM, melalui opini bertajuk “81 Tahun Merdeka, Masihkah Anak Indonesia Buta Aksara Al-Qur’an? Refleksi Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo dan Agenda Besar Pemuda Masjid.”

    Nanang menilai, kemerdekaan tidak semata-mata dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan, tetapi juga terbebas dari kebodohan, keterbelakangan dan berbagai kondisi yang menghambat manusia untuk berkembang secara utuh.

    “Sudahkah seluruh anak Indonesia benar-benar merdeka dari buta aksara Al-Qur’an?” demikian pertanyaan reflektif yang diajukannya.

    Menurut Nanang, pertanyaan tersebut bukan dimaksudkan untuk menyalahkan pemerintah, sekolah, keluarga, guru mengaji maupun anak-anak. Sebaliknya, persoalan itu harus menjadi bahan evaluasi bersama mengenai kualitas pembangunan manusia Indonesia.

    Ia menyoroti angka sekitar 65 persen umat Islam Indonesia yang selama ini banyak dikutip dalam pembahasan mengenai buta aksara Al-Qur’an. Namun, angka tersebut, menurutnya, perlu dibaca secara akademis dan proporsional karena bukan merupakan hasil sensus nasional terbaru yang secara khusus mengukur kemampuan seluruh anak Indonesia dalam membaca Al-Qur’an.

    “Yang jauh lebih penting adalah memastikan berapa anak dan remaja yang belum mampu membaca Al-Qur’an, di mana mereka berada, mengapa mereka belum mampu, dan apa intervensi yang paling efektif untuk membantu mereka,” ujarnya.

    Nanang juga menegaskan bahwa persoalan literasi Al-Qur’an tidak hanya terjadi pada anak-anak di Taman Kanak-kanak Al-Qur’an (TKA) maupun Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Tantangan serupa bahkan masih ditemukan di lingkungan perguruan tinggi.

    Menurutnya, penelitian mengenai indeks kemampuan baca-tulis Al-Qur’an mahasiswa UIN di Indonesia yang dilakukan tim peneliti LPMQ Kementerian Agama menunjukkan kemampuan baca-tulis Al-Qur’an mahasiswa secara nasional berada pada tingkat sedang.

    “Artinya, problem literasi Al-Qur’an tidak otomatis selesai hanya karena seseorang telah melewati pendidikan dasar dan menengah. Kemampuan membaca Al-Qur’an harus dibangun secara berkelanjutan,” katanya.

    Pembangunan Manusia dan Peran Pemuda Masjid

    Nanang kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI, 14 Agustus 2026.

    Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menekankan pentingnya pembangunan manusia sebagai salah satu penentu masa depan bangsa.

    “Pembangunan yang paling menentukan masa depan adalah pembangunan manusia,” kata Presiden Prabowo dalam pidatonya.

    Bagi Nanang, pesan tersebut membuka ruang besar bagi masyarakat sipil, termasuk pemuda masjid, untuk mengambil bagian dalam pembangunan manusia.

    Ia menilai pembangunan manusia tidak cukup hanya berorientasi pada kesehatan fisik dan kecerdasan intelektual. Pembangunan juga harus memperkuat karakter, integritas dan fondasi spiritual.

    “Anak yang kenyang harus mendapatkan pendidikan. Anak yang berpendidikan harus mendapatkan karakter. Anak yang cerdas harus memiliki integritas. Dan anak yang menguasai teknologi harus memiliki nilai yang membimbingnya menggunakan teknologi untuk kebaikan,” jelasnya.

    Karena itu, gerakan pemberantasan buta aksara Al-Qur’an dinilai dapat menjadi bagian dari agenda pembangunan manusia Indonesia, khususnya dalam memperkuat karakter generasi muda.

    Literasi Global Harus Berjalan Bersama Literasi Al-Qur’an

    Nanang juga menyoroti dorongan Presiden Prabowo agar pembelajaran bahasa asing diperkuat sejak pendidikan dasar. Menurutnya, kemampuan berbahasa asing penting untuk mempersiapkan generasi Indonesia menghadapi persaingan global.

    Namun, ia mengingatkan agar kemampuan global tersebut tetap berjalan beriringan dengan penguatan nilai dan karakter.

    “Jika anak Indonesia harus mampu membaca dunia dalam berbagai bahasa, bukankah anak Muslim Indonesia juga harus mampu membaca Al-Qur’an sebagai sumber nilai kehidupannya?” ujarnya.

    Ia menegaskan, literasi global tidak perlu dipertentangkan dengan literasi Al-Qur’an. Keduanya justru harus berjalan beriringan.

    “Global competence harus berjalan bersama spiritual competence. Digital literacy harus berjalan bersama Qur’anic literacy. Kecerdasan intelektual harus berjalan bersama kecerdasan moral,” tegas Nanang.

    Masjid Dinilai Menjadi Basis Gerakan

    Menurut Nanang, Indonesia memiliki modal sosial yang kuat untuk mengembangkan gerakan literasi Al-Qur’an, yakni keberadaan masjid yang tersebar di berbagai wilayah.

    Ia menyebut keberadaan masjid, guru mengaji, pemuda dan remaja masjid serta lembaga seperti TAAM, TKA, TPA dan TQA sebagai infrastruktur sosial yang sudah tersedia di tengah masyarakat.

    Karena itu, yang diperlukan bukan semata-mata pembangunan infrastruktur baru, melainkan penguatan ekosistem melalui peningkatan kompetensi, standardisasi, pendataan, digitalisasi dan kolaborasi.

    BKPRMI melalui Lembaga Pembinaan dan Pengembangan TK Al-Qur’an (LPPTKA), kata Nanang, telah lama berkontribusi dalam pengembangan pendidikan Al-Qur’an melalui jaringan TKA, TPA dan TQA.

    “Gagasan ini bukan gagasan yang tiba-tiba muncul. Ia merupakan bagian dari DNA perjuangan BKPRMI sejak lama. Yang perlu dilakukan sekarang adalah membawa gerakan tersebut ke level baru,” katanya.

    Pemuda Masjid Diminta Naik Kelas

    Nanang menilai pemuda masjid memiliki posisi strategis karena dekat dengan teknologi, kreativitas dan perubahan sosial. Peran mereka, menurutnya, tidak boleh berhenti sebagai panitia kegiatan keagamaan atau sekadar pengelola acara di masjid.

    Pemuda masjid didorong menjadi guru pendamping, mentor digital, pembuat konten edukasi Al-Qur’an, penggerak komunitas, pengembang aplikasi, pengelola data hingga penghubung antara masjid dengan sekolah, pemerintah, dunia usaha dan masyarakat.

    “Pemuda masjid harus menjadi social entrepreneur of faith. Mereka harus menjadi aktor perubahan sosial,” ujarnya.

    Ia juga mendorong transformasi pemuda masjid dari sekadar event organizer menjadi movement maker yang mampu menciptakan gerakan sosial secara berkelanjutan.

    Dorong Digitalisasi Pendidikan Al-Qur’an

    Perkembangan teknologi pendidikan juga dinilai menjadi peluang besar dalam memperluas akses pembelajaran Al-Qur’an.

    Nanang mempertanyakan mengapa konsep digitalisasi yang berkembang di sektor pendidikan belum dikembangkan secara lebih luas dalam ekosistem pembelajaran Al-Qur’an berbasis masjid.

    Ia menawarkan sejumlah gagasan, antara lain Digital TPA, platform pembelajaran Al-Qur’an, database nasional guru mengaji, pemetaan literasi Al-Qur’an berbasis masjid serta kartu digital guru mengaji dan santri.

    “Teknologi tidak boleh menjauhkan anak dari Al-Qur’an. Teknologi justru harus menjadi jembatan anak menuju Al-Qur’an,” katanya.

    Tujuh Agenda Nasional

    Untuk menjadikan gerakan tersebut lebih konkret, Nanang menawarkan tujuh agenda nasional yang dapat dikembangkan bersama.

    Pertama, membangun satu data literasi Al-Qur’an untuk memetakan kemampuan membaca Al-Qur’an anak, remaja dan masyarakat.

    Kedua, mendorong setiap masjid memiliki satu program literasi Al-Qur’an yang terstruktur dan berkelanjutan.

    Ketiga, meningkatkan kompetensi, pengakuan, sertifikasi serta kesejahteraan guru mengaji.

    Keempat, melakukan digitalisasi TAAM, TKA, TPA dan TQA.

    Kelima, menjadikan pemuda masjid sebagai Qur’anic Literacy Volunteer di lingkungan masing-masing.

    Keenam, mengembangkan gerakan “Al-Qur’an untuk Semua” tanpa diskriminasi berdasarkan kondisi ekonomi, wilayah, usia maupun latar sosial.

    Ketujuh, menjadikan Indonesia Emas 2045 sebagai target lahirnya generasi yang tidak hanya melek huruf, teknologi dan bahasa asing, tetapi juga melek Al-Qur’an dan nilai-nilai kehidupan.

    Dari Masjid untuk Indonesia Emas 2045

    Nanang melihat terdapat kesesuaian antara arah pembangunan manusia yang disampaikan Presiden Prabowo dengan agenda yang selama ini dikembangkan BKPRMI.

    “Presiden berbicara tentang pembangunan manusia. BKPRMI bergerak membangun manusia melalui masjid,” ujarnya.

    Ia juga menilai perhatian terhadap pendidikan, digitalisasi, anak-anak yang tidak boleh tertinggal, pemberdayaan ekonomi masyarakat dan gotong royong seluruh elemen bangsa memiliki keterkaitan erat dengan peran pemuda masjid.

    Menurutnya, pemuda masjid bukan berada di luar arus pembangunan nasional, melainkan merupakan bagian dari kekuatan masyarakat yang dapat ikut membangun kualitas manusia Indonesia.

    Karena itu, momentum 81 tahun kemerdekaan Indonesia dinilai menjadi waktu yang tepat untuk menggaungkan gerakan “Merdeka dari Buta Aksara Al-Qur’an” sebagai gerakan sosial berbasis masjid.

    “Jika satu masjid membina puluhan anak, ribuan masjid membina ratusan ribu anak. Jika puluhan ribu masjid bergerak, jutaan anak dapat disentuh,” kata Nanang.

    Ia berharap gerakan tersebut dapat melibatkan masjid, keluarga, sekolah, pesantren, pemerintah, organisasi masyarakat, perguruan tinggi dan dunia usaha sehingga menjadi gerakan bersama dalam membangun generasi Indonesia.

    “Dan bagi generasi Muslim Indonesia: merdeka dari buta aksara Al-Qur’an,” tegasnya.

    Nanang menutup refleksinya dengan pesan bahwa kemerdekaan sejati harus menghasilkan manusia yang sehat, cerdas, produktif, berkarakter, berintegritas dan memiliki nilai spiritual yang kuat.

    “Dari masjid pemuda bergerak. Dari Al-Qur’an karakter dibangun. Dari karakter peradaban dilahirkan,” pungkasnya.

    Menurutnya, dengan membangun generasi yang sehat, cerdas, berakhlak, mandiri dan berdaya saing, cita-cita Indonesia Emas 2045 bukan sekadar harapan, melainkan tujuan yang harus diperjuangkan bersama.

  • Bangun Pusat Pelatihan di Tanjung Saoka, GKI Tanah Papua Perkuat Pelayanan dan SDM

    Melanesiatimes.com, Kota Sorong — Pembangunan Pusat Pelatihan dan Pembinaan Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua resmi dimulai melalui prosesi peletakan batu pertama di kawasan Pantai Tanjung Saoka, Kota Sorong, Papua Barat Daya, Senin (10/8/2026).

    Prosesi peletakan batu pertama berlangsung sekitar pukul 10.30 WIT dan dipimpin oleh Ketua Sinode GKI di Tanah Papua. Kegiatan tersebut turut dihadiri Kapolda Papua Barat Daya Brigjen Pol. Audie Sonny Latuheru, S.I.K., M.Han., Wali Kota Sorong selaku Ketua Panitia, Kepala Kejaksaan Negeri Sorong, Keluarga Lende Mere, serta LMA Keluarga Klawaisa/Keluarga Mubalus.

    Pembangunan pusat pelatihan dan pembinaan ini menjadi langkah penting dalam memperkuat kapasitas kelembagaan dan pelayanan GKI di Tanah Papua.

    Fasilitas tersebut nantinya diharapkan menjadi wadah untuk pelatihan, pembinaan, pengembangan kapasitas sumber daya manusia, serta penguatan pelayanan gereja.

    Kehadiran berbagai unsur dalam prosesi tersebut juga mencerminkan dukungan lintas elemen terhadap pembangunan pusat pembinaan keagamaan. Pemerintah daerah, aparat penegak hukum, tokoh gereja, serta masyarakat adat hadir dalam semangat kebersamaan untuk mendukung pembangunan yang memiliki nilai strategis bagi kehidupan masyarakat.

    Selain memperkuat pelayanan gereja, pusat pelatihan tersebut diharapkan dapat berkontribusi dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas, khususnya generasi muda di Tanah Papua. Pembinaan yang terarah dinilai penting untuk membangun karakter, kapasitas kepemimpinan, serta meningkatkan peran generasi muda dalam kehidupan bermasyarakat.

    Polda Papua Barat Daya menyampaikan bahwa kegiatan peletakan batu pertama berlangsung aman dan lancar. Kehadiran jajaran kepolisian dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari dukungan terhadap berbagai kegiatan masyarakat serta pembangunan di wilayah Papua Barat Daya.

    “Seluruh rangkaian kegiatan peletakan batu pertama Pusat Pelatihan dan Pembinaan GKI di Tanah Papua berlangsung aman dan lancar,” kata Kasubid PID Humas Polda Papua Barat Daya, Kompol Jenny S.A. Hengkelare.

    Dengan dimulainya pembangunan tersebut, Pusat Pelatihan dan Pembinaan GKI di Tanah Papua diharapkan ke depan tidak hanya menjadi pusat pengembangan kapasitas pelayanan gereja, tetapi juga menjadi ruang pembinaan generasi muda dan masyarakat dalam memperkuat nilai-nilai kebersamaan, pelayanan, serta pembangunan sumber daya manusia di Tanah Papua. (***)

  • Gubernur Elisa Kambu Lantik Pengurus DKM Masjid Raya Al-Akbar Papua Barat Daya, Dorong Masjid Jadi Pusat Pembinaan Umat dan Generasi Muda

    Melanesiatimes.com, Kota Sorong PBD – Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, secara resmi melantik Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Raya Al-Akbar Papua Barat Daya dalam sebuah prosesi yang berlangsung di Aula ACC Masjid Al-Akbar Papua Barat Daya, Selasa (5/8/2026).

    Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan Rapat Kerja (Raker) I DKM sebagai langkah awal menyusun arah kebijakan dan program kerja kepengurusan yang baru.

    Dalam sambutannya, Gubernur Elisa Kambu menegaskan bahwa pelantikan pengurus DKM bukan sekadar agenda seremonial, melainkan awal dari sebuah amanah besar untuk memakmurkan masjid sekaligus menjadikan Masjid Raya Al-Akbar sebagai pusat pembinaan umat Islam di Papua Barat Daya.

    “Pelantikan ini bukan hanya sebuah kegiatan seremonial, tetapi merupakan momentum dimulainya amanah besar dalam memakmurkan masjid dan menjadikan Masjid Raya Al-Akbar sebagai pusat pembinaan umat di Papua Barat Daya,” ujar Elisa Kambu.

    Menurutnya, masjid memiliki peran yang jauh lebih luas daripada sekadar tempat melaksanakan ibadah. Masjid juga harus menjadi pusat pendidikan, pembinaan akhlak, pemberdayaan ekonomi umat, penguatan kepedulian sosial, serta wadah mempererat persaudaraan dan persatuan masyarakat.

    Karena itu, ia berharap kepengurusan DKM yang baru mampu menjalankan amanah dengan penuh keikhlasan, profesionalisme, transparansi, dan tanggung jawab demi kemajuan umat.

    “Masjid Raya Al-Akbar tidak hanya menjadi simbol kebesaran umat Islam, tetapi juga harus menjadi pusat kemakmuran umat dan pusat peradaban Islam di Papua Barat Daya,” tegasnya.

    Elisa Kambu juga memberikan perhatian khusus terhadap pembinaan generasi muda. Menurutnya, anak-anak dan pemuda merupakan calon pemimpin Papua Barat Daya di masa depan yang harus mendapatkan ruang pembinaan melalui kegiatan-kegiatan masjid.

    “Masjid harus menjadi tempat yang nyaman bagi generasi muda untuk belajar Al-Qur’an, memperdalam ilmu agama, membangun karakter, meningkatkan kepedulian sosial, serta mengembangkan potensi positif yang mereka miliki,” katanya.

    Ia menambahkan, di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan berbagai tantangan sosial saat ini, masjid harus mampu menjadi benteng moral yang menghadirkan keteladanan, perlindungan, pendidikan, dan pembinaan akhlak bagi generasi muda.

    Selain pelantikan, Rapat Kerja I DKM juga dinilai memiliki arti strategis. Gubernur meminta agar program kerja yang disusun benar-benar menjawab kebutuhan jamaah dan masyarakat serta dilaksanakan secara terencana, terukur, dan berkelanjutan.

    Ia mendorong agar kepengurusan memberikan perhatian terhadap peningkatan kegiatan keagamaan melalui kajian Islam, pendidikan Al-Qur’an, pembinaan imam dan khatib, serta pengembangan TPQ/TPA, pembinaan kepemudaan, kajian ilmiah, dan pembentukan karakter generasi muda.

    Menurut Elisa Kambu, pembangunan Papua Barat Daya tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pembangunan manusia, karakter, dan kehidupan keagamaan.

    “Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Kami membutuhkan dukungan para ulama, tokoh agama, pengurus masjid, dan seluruh organisasi keagamaan untuk bersama-sama membangun masyarakat Papua Barat Daya yang religius, berkarakter, toleran, maju, dan sejahtera,” ujarnya.

    Ia juga mengajak seluruh pengurus DKM untuk terus bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya serta menjadikan Masjid Raya Al-Akbar sebagai rumah besar umat Islam yang menghadirkan kedamaian, kesejukan, persaudaraan, dan kemaslahatan bagi seluruh masyarakat.

    Sementara itu, Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Raya Al-Akbar Papua Barat Daya, Abdul Mutalib Salim, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada kepengurusan baru. Ia menegaskan seluruh pengurus siap menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab dan berkomitmen menjadikan Masjid Raya Al-Akbar sebagai pusat ibadah, pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan umat.

    Gubernur Elisa Kambu Lantik Pengurus DKM Masjid Raya Al-Akbar Papua Barat Daya, Dorong Masjid Jadi Pusat Pembinaan Umat dan Generasi Muda
    Gubernur Provinsi Papua Barat Daya Elis Kambu

    “Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan. Amanah ini akan kami jalankan dengan penuh keikhlasan, kebersamaan, dan tanggung jawab. Kami ingin Masjid Raya Al-Akbar semakin hidup dengan berbagai kegiatan keagamaan, pembinaan generasi muda, serta program-program yang memberi manfaat nyata bagi umat,” ujar Abdul Mutalib Salim.

    Ia juga mengajak seluruh jamaah untuk bersama-sama memakmurkan masjid karena, menurutnya, keberhasilan sebuah masjid bukan hanya menjadi tanggung jawab pengurus, melainkan seluruh umat Islam.

    “Kami berharap dukungan seluruh jamaah dan masyarakat. Memakmurkan masjid adalah tanggung jawab bersama sehingga Masjid Raya Al-Akbar benar-benar menjadi pusat persatuan, pendidikan, dan pembinaan umat di Papua Barat Daya,” pungkasnya.

    Pelantikan dan Rapat Kerja I DKM Masjid Raya Al-Akbar Papua Barat Daya diharapkan menjadi awal lahirnya berbagai program yang inovatif, berkelanjutan, dan mampu memberikan manfaat luas bagi masyarakat, sekaligus memperkuat peran masjid sebagai pusat pembinaan umat dalam mendukung terwujudnya Papua Barat Daya yang religius, damai, maju, dan sejahtera.

  • Nahkodai PCNU Kota Sorong, Ustadz M. Muhyiddin Siap Wujudkan Program Nyata Bagi Umat

    Melanesiatimes.com, Kota Sorong – Ketua Terpilih Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Sorong, Ustadz Muhammad Muhyiddin, menegaskan komitmennya untuk membawa organisasi lebih dekat dengan masyarakat melalui program-program yang menyentuh berbagai aspek kehidupan, mulai dari sosial, pendidikan, ekonomi, hingga penguatan nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan. Minggu (2/7/2026)

    Menurut Muhyiddin, kepengurusan yang baru akan tetap berpegang pada semangat pengabdian kepada umat dengan mengedepankan aksi nyata dibanding sekadar menyampaikan janji.

    “Kita wajib peduli kepada warga melalui kegiatan sosial, ekonomi, budaya, politik, pendidikan, dan berbagai bidang lainnya. Nahdlatul Ulama harus hadir untuk menjaga Indonesia, melindungi agama, membela masyarakat, terutama umat Islam dan warga Nahdliyin. Yang paling penting, kita terus memperkuat tali persaudaraan dan persatuan di Kota Sorong,” ujarnya.

    Ia menambahkan, sebagai bagian dari masyarakat Kota Sorong, NU akan terus mengedepankan sikap saling menghormati dan menjaga kerukunan antarumat beragama.

    “Sedikit bicara, banyak beraksi. Kami ingin membuktikan program kerja melalui tindakan nyata, bukan sekadar janji. Semoga seluruh pihak dapat mendukung terwujudnya cita-cita ini,” katanya.

    Muhyiddin menjelaskan bahwa fokus utama kepengurusan mendatang adalah merealisasikan program kerja yang benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Menurutnya, keberhasilan organisasi tidak diukur dari banyaknya program yang dirancang, melainkan dari hasil nyata yang dapat dirasakan masyarakat.

    “Tujuan kita sederhana, yaitu mewujudkan program kerja menjadi kenyataan. Tidak perlu terlalu banyak tujuan yang bersifat formal, tetapi bagaimana hasil kerja itu bisa dirasakan masyarakat, baik di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, maupun sektor lainnya,” ungkapnya.

    Untuk mendukung pelaksanaan program tersebut, PCNU Kota Sorong juga akan memperkuat sinergi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, dunia usaha, tokoh adat, tokoh agama, serta berbagai elemen masyarakat.

    “Kami akan terus membangun komunikasi dan bekerja sama dengan pemerintah daerah, para pengusaha, tokoh adat, tokoh agama, serta seluruh pihak yang memiliki peran dalam membangun masyarakat. Kolaborasi menjadi kunci agar program-program NU dapat berjalan dengan baik,” jelasnya.

    Terkait pelantikan pengurus, Muhammad Muhyiddin menyampaikan bahwa proses tersebut masih menunggu tahapan administrasi organisasi sesuai mekanisme yang berlaku di Nahdlatul Ulama.

    “Pelantikan masih menunggu proses organisasi selesai. Setelah struktur kepengurusan disusun, akan kami sampaikan kepada Pengurus Wilayah, kemudian diteruskan ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Jakarta. Yang terpenting, kepengurusan ini diisi oleh orang-orang yang memiliki kompetensi di bidangnya sehingga mampu menjalankan amanah organisasi dengan baik,” tutupnya.

  • Konfercab Ke-IV NU Kota Sorong Tetapkan Ustadz M. Muhyiddin sebagai Ketua PCNU Kota Sorong

    Melanesiatimes.com, Kota Sorong – Konferensi Cabang (Konfercab) Ke-IV Nahdlatul Ulama (NU) Kota Sorong sukses digelar di Masjid Baitussalam Kilometer 10, Kota Sorong, pada Minggu (2/8/2026). Mengusung tema “Bergerak Berdayakan Umat Memasuki Abad Kedua Nahdlatul Ulama”,

    Forum tertinggi organisasi di tingkat cabang ini menjadi momentum penting dalam menentukan arah kepemimpinan NU Kota Sorong untuk lima tahun ke depan.

    Konfercab dihadiri oleh para pengurus, ulama, tokoh masyarakat, serta perwakilan Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama se-Kota Sorong. Selain menjadi ajang evaluasi program kerja, kegiatan ini juga menjadi forum musyawarah untuk memilih Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Sorong periode 2026–2031.

    Sebelum memasuki pemilihan Ketua PC NU, Sidang memilih Rois Syuriah melalui musyawarah dan di sepakati Hi. Uso Sebagai Ketua Rois Syuriah.

    Dalam tahapan pencalonan, sidang pleno menetapkan dua nama sebagai bakal calon Ketua PCNU Kota Sorong, yakni Ustadz H. Abidin dan Ustadz Muhammad Muhyiddin. Setelah proses pengusulan selesai, sidang dilanjutkan dengan pemungutan suara yang diikuti oleh tujuh MWC NU Kota Sorong.

    Berdasarkan hasil pemungutan suara, Ustadz Muhammad Muhyiddin memperoleh suara terbanyak enam suara, sementara Ustadz H. Abidin meraih satu suara. Dengan hasil tersebut, Ustadz Muhyiddin secara resmi ditetapkan sebagai Ketua PCNU Kota Sorong periode 2026–2031.

    Ketua terpilih, Ustadz Muhyiddin, menyampaikan rasa syukur atas amanah yang diberikan kepadanya. “Saya mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan oleh seluruh MWC. Amanah ini bukan hanya tanggung jawab saya pribadi, tetapi tanggung jawab bersama untuk membesarkan Nahdlatul Ulama dan terus memberdayakan umat di Kota Sorong,” ujarnya.

    Melalui Konfercab IV ini, diharapkan kepengurusan baru PCNU Kota Sorong dapat melanjutkan estafet kepemimpinan dengan memperkuat peran organisasi dalam bidang keagamaan, pendidikan, sosial kemasyarakatan, serta pemberdayaan umat di Kota Sorong.

    Usai menetapkan Ketua PCNU Kota Sorong terpilih, sidang Konfercab IV dilanjutkan dengan pemilihan tim formatur. Tim ini diberikan mandat untuk mendampingi ketua terpilih dalam menyusun struktur kepengurusan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Sorong periode 2026–2031.

    Pembentukan tim formatur diharapkan dapat menghasilkan susunan kepengurusan yang solid, representatif, dan mampu menjalankan roda organisasi secara optimal demi memperkuat peran NU dalam melayani serta memberdayakan umat di Kota Sorong.

  • Masjid Jadi Motor Ekonomi Umat, Bupati Maluku Tengah Resmikan Program Jum’at Berkah Samudera UMKM

    Melanesiatimes.com, Masohi Maluku Tengah – Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga dapat berperan sebagai pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat. Gagasan tersebut menjadi semangat yang diusung dalam peluncuran Program Jum’at Berkah yang digagas Samudera UMKM di halaman Masjid Ibnu Abdullah, Kota Masohi, pada  Jumat (31/7/2026).

    Program yang mengusung tema “Menghidupkan Masjid, Memakmurkan Umat, dan Menguatkan Ekonomi Masyarakat Melalui UMKM” itu mendapat apresiasi penuh dari Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir.

    Menurutnya, program tersebut merupakan contoh nyata sinergi antara nilai-nilai keagamaan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

    Dalam sambutannya, Zulkarnain menegaskan bahwa pembangunan ekonomi tidak hanya bertumpu pada kebijakan pemerintah, tetapi juga membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat, termasuk organisasi sosial dan keagamaan yang memiliki kepedulian terhadap pemberdayaan ekonomi umat.

    “Program seperti ini patut diapresiasi karena menghadirkan konsep yang sangat mulia. Masjid tidak hanya dihidupkan sebagai pusat ibadah, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kemandirian ekonomi masyarakat melalui penguatan UMKM,” kata Zulkarnain.

    Ia menjelaskan, apabila aktivitas keagamaan berjalan beriringan dengan tumbuhnya sektor UMKM, maka manfaatnya akan dirasakan secara luas oleh masyarakat.

    “Masjid bukan hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga pusat pemberdayaan umat. Ketika aktivitas keagamaan berjalan seiring dengan tumbuhnya UMKM, maka keberkahan akan hadir, ekonomi masyarakat bergerak, dan kesejahteraan dapat dirasakan lebih luas,” ujarnya.

    Bupati juga menilai UMKM memiliki posisi yang sangat strategis sebagai penggerak ekonomi daerah. Selain membuka lapangan pekerjaan, sektor tersebut mampu mendorong lahirnya kreativitas masyarakat sekaligus memperkuat perputaran ekonomi di tingkat lokal.

    “Dari UMKM lahir lapangan kerja, tumbuh kreativitas, dan berputarnya ekonomi masyarakat. Karena itu, pemerintah akan terus hadir memberikan dukungan agar para pelaku UMKM semakin berkembang dan mampu bersaing,” tegasnya.

    Komitmen tersebut, lanjut Zulkarnain, akan diwujudkan melalui dukungan terhadap berbagai program dan inovasi yang dapat meningkatkan kapasitas pelaku UMKM sehingga mampu naik kelas dan menjadi keuatan utama ekonomi daerah.

    “Pemkab Maluku Tengah akan terus mendukung setiap langkah dan inovasi yang memperkuat pelaku UMKM agar semakin naik kelas, semakin berdaya saing, dan semakin mampu menjadi penggerak ekonomi lokal,” imbuhnya.

    Menutup sambutannya, Zulkarnain berharap Program Jum’at Berkah dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan berkembang menjadi gerakan bersama dalam membangun ekonomi umat berbasis masjid.

    “Kami berharap Program Jum’at Berkah ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi gerakan yang mampu mempererat ukhuwah, memperkuat kepedulian sosial, sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat,” pungkasnya.

    Peluncuran Program Jum’at Berkah turut dihadiri para Asisten, Staf Ahli, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Maluku Tengah, para alim ulama, tokoh agama, imam masjid dan kepenghuluan, Ketua Samudera UMKM beserta jajaran pengurus, serta para pelaku UMKM.