Tag: Asosiasi Pariwisata Raja Ampat

  • Tindak Lanjut Demonstrasi, Ketua dan Anggota DPRD Investigasi Aktivitas Tambang di Batan Pele Kabupaten Raja Ampat

    Melanesiatimes.com,Waisai– Menindaklanjuti aksi demonstrasi yang dilakukan para Asosiasi dan Aliansi Jaga Alam Raja Ampat (ALJARA) pada tanggal 26 mei 2025, Ketua DPRD Bersama Waket I, Waket II beserta beberapa anggota DPRD Kabupaten Raja Ampat menginvestigasi langsung lokasi kampung Manyaifuin dan pulau Batan Pele.

    Pantauan media ini, saat investigasi Ketua DPRD bersama beberapa Anggotanya tiba di Manyaifun para rombongan disambut oleh masyarakat setempat, agenda ini di dampingi Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Bagian Hukum Setda Raja Ampat, perwakilan DPM PTSP dan di kawal langsung oleh Kapolres Raja Ampat AKBP Jems O Tegai bersama jajarannya.

    Tujuan Ketua DPRD Kabupaten Raja Ampat dan beberapa Anggotanya untuk mendengar langsung aspirasi dari masyarakat kampung Manyaifuin terkait kehadiran PT.Mulia Raymond Perkasa di pulau Batan Pele.

    “Saya dan beberapa Anggota DPRD, hadir bersama bapak ibu di kampung Manyaifuin ini untuk mendengar langsung aspirasi terkait kehadiran tambang dan sekaligus menindaklanjuti aksi demonstrasi dari para Asosiasi dan Aliansi Jaga Alam Raja,” Ujar Ketua DPRD pada sesi bicaranya, Manyaifun, Jumat 30 mei, 2025.

    Pada momen itu salah satu Kepala Keret menyampaikan di hadapan Ketua DPRD bersama tim bahwa di Manyaifuin kurang lebih ada 6 Marga besar yang memiliki hak atas pulau Batan Pele yakni Walespapo, Ayelo dari bagian kampung Ser Pele, Dimara, Mambaraku, Fakdawer dan Wondamen.

    Menurut Kepala Keret tersebut, bahwa pihaknya menyambut baik atas kehadiran PT Mulia Raymond Perkasa di Batan Pele, sabagai upaya membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat di kampung Manyaifuin.

    Lanjut, (Red-Kepala Keret) bahwa kelompok yang kontra atau tidak menerima PT Mulia Raymond Perkasa ini hanya berkisar 5 Kepala Keluarga di kampung Manyaifuin.

    Usai mendengarkan aspirasi masyarakat Manyaifuin Ketua DPRD Kabupaten Raja Ampat Moh Taufik Sarasa meminta ijin para pemilik hak ulayat sekaligus meminta agar mengantar ia bersama tim untuk meninjau lokasi pertambangan di pulau Batan Pele.

    Setelah tim tiba di Batan Pele, perjalanan menuju tenda-tenda darurat para 73 pekerja asal kampung Manyaifuin dan beberapa karyawan geologi dari PT Mulia Raymond Perkasa.

    Saat meminta keterangan para pekerja lokal belum dilindungi BPJS Ketenagakerjaan Ketua DPRD mempertegas kepada Karyawan Geologi PT Mulia Raymond Perkasa agar menyampaikan ke pihak perusahaan segera difasilitasi BPJSnya.

    “Rencana senin kita akan bentuk Panitia Kerja (Panja) untuk menyikapi persoalan pertambagan di pulau Batan Pele,” pungkas Ketua DPRD Kabupaten Raja Ampat

    Dalam investigasi itu terdapat beberapa sampel nikel yang di ambil dan siap diuji lab di Sofifi, Maluku Utara milik PT Geo Gea Laboratory salah satu lab penguji mineral.

     

  • Yoris PADRA : Menolak Keras Aktivitas Eksploitasi dan Eksplorasi Tambang di Manyaifuin dan Batan Pelei

    Melanesiatimes.com, Waisai – Kehadiran tambang di raja ampat gencar diperbincangkan. Baru-baru ini sejumlah penolakan bermunculan dari beberapa tokoh muda dan Asosiasi serta masyarakat adat Kawei selaku pemilik Hak Ulayat pulau Batan Pelei dan Manyaifuin. Rabu (12/3/25)

     

    Pulau Batan Pelei dan Manyaifuin juga merupakan salah satu titik aktivitas eksploitasi tambang bakal diizinkan.

     

    Menyikapi hal ini Wakil Ketua Perkumpulan Penyelam Professional Raja Ampat (PADRA), Yoris Sauyai, mengatakan bahwa, tambang selain merusak hutan dan mengancam pemukiman warga tentu pariwisata laut dan darat menjadi korban utama dibalik aktivitas tambang tersebut.

     

    “keanekaragaman hayati lautnya yang menakjubkan menjadikan Raja Ampat sebagai salah satu tujuan utama bagi para penyelam dan pecinta, kini keindahannya bakal tercermar limbah tambang dan beberapa spesies laut yang mendunia nyaris tinggal nama,” pungkasnya

    Yoris Sauyai saat diwawancarai

     

    Menurut Yoris isue penambangan ini sangat meresakan, kehidupan warga disana sudah bergantung pada laut Raja Ampat yang eksotis dan luar biasa

     

    Lanjut Sauyai menyampaikan, kurang lebih dari 75% spesies karang dunia yang dapat ditemukan di perairan Raja Ampat, Manyaifuin dan Batan Pelei juga merupakan rumah bagi ekosistem laut yang sangat kaya.

    Spesies Karang Yang di Jelajahi Yoris (Sumber Foto Yoris Sauyai)

    “Raja Ampat mendunia dengan Pariwisata, tambang mestinya menjadi solusi terakhir, pariwisatanya kini terancam dengan kehadiran tambang yang digadang-gadangkan beroperasi di Manyaifuin dan Batan Pelei,” ungkapnya

     

    Wakil Ketua Perkumpulan Penyelam Professional Raja Ampat (PADRA) itu bilang, dengan cara apapun akan ditempuh mediasi hingga gelar parlemen jalanan pun akan dilakukan pihaknya dan Kawan-kawan

     

    “Apapun itu kami sebagai pelaku wisata menolak segala macam eksplorasi dan eksploitasi tambang bila perlu mengusut tuntas oknum-oknum Korporat yang berlindung di balik kepentingan tambang ini,” tegas Yoris Sauyai

  • Boikot Tambang Manyaifuin Asosiasi Persatuan Pelaku Wisata Raja Ampat Kampanye Baliho Penolakan

    Melanesiatimes.com, Waisai – Penolakan keras terhadap aktivitas tambang di kampung Manyaifuin, Distrik Waigeo Barat Kepulauan, Kab Raja Ampat Provinsi Papua Barat Daya masih terus bergulir.

     

    Adapun beberapa faktor pendukung menjadi alasan utama penolakan aktivitas penambangan seperti terancamnya pemukiman warga, dampak langsung pada lingkungan pariwisata dan kondisi daerah yang tidak layak dijadikan sebagai tempat eksplorasi.

     

    Pantauan media ini, pada 11 maret 2025, pukul 22.00 WIT. Kurang lebih ada 4 (empat) Asosiasi Pariwisata dengan nama Koalisi Persatuan Pelaku Wisata Raja Ampat, juga turut andil mengkampanyekan baliho penolakan.

    Sisi Kiri Pelabuhan Kota Waisai

    Pemasangan baliho dimulai dari pintu masuk utama pelabuhan kota Waisai, Kabupaten Raja Ampat dengan tulisan sebagai berikut :

     

    “MENOLAK KERAS AKTIVITAS TAMBANG DI RAJA AMPAT, KARENA AKAN MERUSAK PARIWISATA RAJA AMPAT DAN AKAN MENINGGALKAN AIR MATA BAGI ANAK CUCU KITA”

    Sisi Kanan Pelabuhan Kota Waisai

    4 (empat) organisasi tersebut yakni Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), Professional Association Of Diver Raja Ampat (PADRA), Asosiasi Speedboat Raja Ampat (ASRA), Perkumpulan Penggerak Usaha dan Penghidupan Masyarakat Raja Ampat (PERJAMPAT).