Tag: Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

  • Yusdi Lamatenggo Dorong Konsep “Pentahelix Plus” untuk Perkuat Ekowisata Papua Barat Daya

    Melanesiatimes.com, Kota Sorong PBD – Strategi pengembangan ekowisata di Papua Barat Daya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak secara terpadu. Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya, Yusdi N. Lamatenggo, saat menjadi salah satu narasumber dalam Talkshow Parallel pada kegiatan Papua Action for Development, Economy, and Sustainable Nature (PAPEDA SUMMIT) di Hotel Vega Prime, Kota Sorong, Kamis (3/9/2026).

    Dalam sesi yang mengangkat tema “Strategi Pengembangan Ekowisata Provinsi Papua Barat Daya” itu, Yusdi memperkenalkan konsep Pentahelix Plus sebagai pendekatan kolaboratif dalam membangun sektor pariwisata yang berkelanjutan.

    Menurut Yusdi, konsep Pentahelix bukanlah hal baru dalam perjalanan pengembangan pariwisata yang telah digelutinya selama sekitar 21 tahun, khususnya ketika dirinya berkecimpung dalam pengelolaan pariwisata di Raja Ampat.

    Konsep tersebut pada dasarnya melibatkan lima unsur utama, yakni pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha atau swasta, serta media. Namun, dalam penerapannya di Papua Barat Daya, Yusdi menilai diperlukan satu unsur penguat, yakni kepemimpinan atau leadership.

    Ia menyebut unsur kepemimpinan tersebut sebagai “plus”, yang menggambarkan keberpihakan dan komitmen pimpinan daerah dalam menentukan arah pembangunan pariwisata.

    “Karena tidak ada satu pihak pun yang bisa berjalan sendiri, bersama kita jaga alam, berdayakan masyarakat dan majukan ekonomi,” kata Yusdi Lamatenggo.

    Ia menjelaskan, masing-masing unsur dalam Pentahelix memiliki fungsi yang saling melengkapi. Pemerintah berperan dalam penyusunan regulasi, fasilitasi, perencanaan, pendanaan, pembangunan infrastruktur hingga pengawasan.

    Sementara masyarakat ditempatkan sebagai aktor utama yang terlibat langsung dalam pengelolaan destinasi, sekaligus menjadi penjaga lingkungan dan budaya serta pihak yang menerima manfaat dari aktivitas pariwisata.

    Dari sisi akademisi, perannya mencakup riset, inovasi, edukasi, pendampingan hingga pengembangan pengetahuan yang dapat menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan maupun penerapan praktik terbaik di lapangan.

    Adapun sektor bisnis dan swasta diharapkan mengambil peran melalui investasi, pengembangan produk dan layanan wisata, pemasaran, serta penerapan prinsip-prinsip bisnis yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

    Sedangkan media memiliki posisi strategis dalam memberikan edukasi kepada publik, mempromosikan destinasi, membangun kampanye positif, sekaligus membentuk citra ekowisata Papua Barat Daya sebagai destinasi yang berkelanjutan.

    Yusdi menegaskan, keberhasilan ekowisata pada akhirnya sangat bergantung pada kemampuan masyarakat lokal untuk bertransformasi dari sekadar penerima manfaat menjadi pelaku sekaligus penjaga keberlanjutan lingkungan.

    “Dan masyarakat sebagai pelaku utama akan bertransformasi memanfaatkan ekowisata yang berkelanjutan. Transformasi ini telah sering kita saksikan sendiri, bagaimana yang dulunya pemburu, aktif menebang pohon, penggunaan alat tangkap perikanan tidak ramah lingkungan, kini menjadi penjaga alam dan kelestariannya,” ungkap Yusdi Lamatenggo.

    Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat tersebut menjadi salah satu bukti bahwa pengembangan ekowisata tidak hanya berbicara mengenai peningkatan kunjungan wisatawan, tetapi juga bagaimana aktivitas pariwisata mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga lingkungan dan budaya bagi generasi mendatang.

  • Revalidasi UNESCO Raja Ampat Tuntas, Pemprov PBD Berharap Green Card

    Melanesiatimes.com, Kota Sorong PBD — Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya menyatakan dukungan penuh terhadap proses revalidasi status UNESCO Global Geopark (UGGp) Raja Ampat yang telah berlangsung selama lima hari. Seluruh rangkaian kunjungan lapangan evaluator UNESCO berjalan lancar, meski dihadapkan pada kondisi iklim dan cuaca yang dipengaruhi fenomena El Nino di wilayah Raja Ampat.

    Sebagai penutup rangkaian kegiatan, Closing Ceremony Revalidasi UGGp Raja Ampat digelar di Vega Prime Hotel, Kota Sorong, Jumat (21/8/2026) malam.

    Dalam kegiatan tersebut, juga dilakukan penyerahan cenderamata dari tim evaluator UNESCO kepada Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Raja Ampat sebagai bentuk apresiasi atas kerja sama dan dukungan selama proses revalidasi berlangsung.

    Mewakili Gubernur Papua Barat Daya, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Papua Barat Daya, Yusdi N. Lamatenggo, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada dua evaluator UNESCO, Nina Atsuko dari Jepang dan Chen Fang, yang telah melakukan penilaian lapangan sekaligus pendalaman dokumen terkait status UGGp Raja Ampat.

    Menurut Yusdi, revalidasi tersebut merupakan proses penting karena status UNESCO Global Geopark harus dievaluasi secara berkala setiap empat tahun untuk memastikan seluruh standar dan ketentuan UNESCO tetap dijalankan.

    “Terima kasih atas kunjungan lapangan yang dilakukan. Mewakili Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya, kami berharap green card,” ujar Yusdi Lamatenggo.

    Ia menjelaskan, dalam proses evaluasi, tim UNESCO tidak hanya memeriksa keberadaan geosite, tetapi juga melihat langsung pengelolaan pusaka geologi, kelengkapan papan informasi, bangunan informasi Geopark, Tourist Information Center (TIC), produk dan promosi Geopark, hingga keterlibatan masyarakat dalam pengelolaannya.

    Evaluator juga menilai sejauh mana kolaborasi Raja Ampat sebagai UNESCO Global Geopark dengan Geopark lainnya di Indonesia maupun jaringan Geopark dunia. Penilaian dilakukan melalui kunjungan langsung ke berbagai lokasi untuk berdialog dengan masyarakat, pengelola, pemerintah daerah, pelaku usaha, komunitas, serta pihak terkait lainnya.

    “Selama empat tahun ini, apa yang dikerjakan oleh Raja Ampat, itu yang mereka evaluasi lagi. Mereka turun ke lokasi untuk bertemu langsung dengan warga, pengelola, pemerintah, dan rekan-rekan dunia bisnis,” jelasnya.

    Revalidasi UNESCO Raja Ampat Tuntas, Pemprov PBD Berharap Green Card
    Penyerahan cenderamata dari tim evaluator UNESCO kepada Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Raja Ampat sebagai bentuk apresiasi atas kerja sama dan dukungan selama proses revalidasi berlangsung.

    Yusdi mengatakan, dari kunjungan lapangan tersebut, evaluator telah memperoleh gambaran awal mengenai kondisi UGGp Raja Ampat. Namun, hasil akhir belum dapat diumumkan karena masih harus dituangkan dalam laporan dan formulir evaluasi yang akan disampaikan kepada Dewan UNESCO Global Geopark.

    Sementara itu, evaluator UNESCO, Nina Atsuko, mengapresiasi sambutan hangat yang diberikan pemerintah daerah, masyarakat lokal, kelompok dan komunitas, lembaga swadaya masyarakat (NGO), serta seluruh pihak yang ditemui selama kunjungan lapangan.

    Nina mengaku memperoleh banyak pengalaman dan pengetahuan baru selama melakukan penilaian di sejumlah geosite, kampung, serta objek daya tarik wisata yang berada dalam kawasan UGGp Raja Ampat.

    “Kami belum dapat menyampaikan hasil kunjungan kali ini, karena yang kami lakukan nanti adalah merampungkan laporan kepada Dewan UNESCO dan hasilnya akan diberikan pada pertemuan bulan November di Perancis,” jelas Nina Atsuko.

    Yusdi menambahkan, hasil revalidasi tersebut selanjutnya akan dibahas dalam agenda Asia Pacific Geoparks Network (APGN) yang dijadwalkan berlangsung di Langkawi, Malaysia, pada September 2026. Tim Geopark Raja Ampat bersama unsur pemerintah daerah direncanakan hadir untuk melaporkan proses verifikasi yang telah dilaksanakan.

    Selanjutnya, hasil evaluasi akan dibawa dalam sidang Dewan UNESCO di Paris, Perancis, pada November 2026. Dalam forum tersebut akan ditentukan apakah Raja Ampat tetap memenuhi standar sebagai UNESCO Global Geopark.

    “Kami berharap Raja Ampat tetap lulus. Dari tinjauan lapangan dan dialog dengan masyarakat, terlihat antusiasme warga dalam menjaga dan mengunjungi situs warisan geologi tetap terjaga, meskipun saat ini kondisi gelombang cukup tinggi,” katanya.

    Pemprov Papua Barat Daya, lanjut Yusdi, menilai keberadaan status UNESCO bukan sekadar kebanggaan atau pengakuan internasional, tetapi harus memberikan dampak nyata terhadap kelestarian alam dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

    Terlebih, Raja Ampat kini memiliki dua pengakuan UNESCO, yakni sebagai UNESCO Global Geopark dan UNESCO Biosphere Reserve yang diraih pada tahun sebelumnya. Dua predikat tersebut dinilai menjadi keunggulan strategis bagi Papua Barat Daya sekaligus tanggung jawab besar dalam menjaga kelestarian lingkungan.

    “Kami merasa bangga karena Raja Ampat kini memiliki dua pengakuan UNESCO, yaitu sebagai Global Geopark dan Biosfer. Ke depan, ini harus menjadi keunggulan bagi Bumi Papua, khususnya Papua Barat Daya. Namun yang paling penting adalah alam tetap terjaga dan kehidupan masyarakat di kawasan Geopark dan Biosfer semakin meningkat,” tegas Yusdi.

    Ia menegaskan, Pemprov Papua Barat Daya melalui Gubernur, Wakil Gubernur, Sekretaris Daerah, serta seluruh organisasi perangkat daerah terkait akan terus memberikan dukungan terhadap pengelolaan Geopark Raja Ampat.

    “Yang terpenting adalah peningkatan hidup warga di area Geopark dan Biosfer. Itulah prioritas utama yang harus menjadi acuan kita dalam menilai seluruh kegiatan yang dilakukan,” pungkasnya.

  • Booth Papua Barat Daya Diserbu Pengunjung, Transaksi Wisata Tembus Rp1,2 Miliar

    Melanesiatimes.com, Jakarta – Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya, Yusdi Lamatenggo, menyebut partisipasi Papua Barat Daya dalam event pameran pariwisata berskala nasional dan internasional memberikan dampak positif terhadap promosi destinasi wisata daerah sekaligus membuka peluang kerja sama strategis dengan berbagai mitra industri pariwisata. Sabtu (25/4/2026).

    Selama tiga hari pelaksanaan pameran, booth Papua Barat Daya mencatat transaksi yang signifikan dengan penjualan sebanyak 98 paket wisata bahari. Nilai transaksi business to consumer (B2C) diperkirakan mencapai Rp1,2 miliar, menunjukkan tingginya minat wisatawan terhadap potensi wisata unggulan di wilayah tersebut.

    Tak hanya dari sisi transaksi, antusiasme pengunjung juga terlihat dari jumlah kunjungan yang mencapai 3.523 orang selama pameran berlangsung. Tingginya angka kunjungan tersebut dinilai menjadi indikator meningkatnya ketertarikan masyarakat terhadap destinasi wisata di Papua Barat Daya.

    “Event pameran seperti ini menjadi strategi krusial untuk memperkenalkan potensi wisata Papua Barat Daya kepada audiens yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ujar Yusdi Lamatenggo.

    Di sektor business to business (B2B), Papua Barat Daya juga berhasil menjaring potensi empat nota kesepahaman (MoU) awal bersama agen perjalanan nasional dan internasional. Kerja sama tersebut diarahkan untuk pengiriman grup wisata pada kuartal III dan IV tahun ini, termasuk pengembangan pariwisata berkelanjutan yang sejalan dengan program WISE Trips Papua Barat Daya.

    Yusdi menjelaskan, pameran pariwisata tidak hanya menjadi sarana promosi, tetapi juga wadah membangun jejaring dengan profesional perjalanan global. Menurutnya, ajang nasional mampu meningkatkan daya tarik wisata lokal sekaligus memperkuat citra Papua Barat Daya sebagai destinasi unggulan wisata bahari.

    Meski mencatat hasil positif, pelaksanaan pameran juga menghadapi sejumlah tantangan. Tingginya antusiasme pengunjung menyebabkan stok suvenir eksklusif dan materi promosi cetak habis pada pertengahan hari ketiga pameran.Booth Papua Barat Daya Diserbu Pengunjung, Transaksi Wisata Tembus Rp1,2 Miliar

    Selain itu, area B2B di dalam booth dinilai kurang luas sehingga membatasi ruang gerak saat jam sibuk. Kondisi tersebut membuat beberapa proses negosiasi dan diskusi bisnis berlangsung kurang kondusif akibat tingginya tingkat kebisingan di area pameran.

    “Kami melihat perlu adanya perluasan ukuran booth pada agenda berikutnya agar tersedia ruang B2B yang lebih representatif untuk negosiasi industri pariwisata,” katanya.

    Keluhan lain yang cukup dominan datang dari pengunjung domestik terkait harga tiket pesawat menuju Sorong yang masih dianggap mahal. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat sebagian calon wisatawan menunda transaksi perjalanan wisata mereka.

    Menurut Yusdi, persoalan aksesibilitas dan harga tiket penerbangan perlu mendapat perhatian bersama, termasuk melalui edukasi rute penerbangan alternatif maupun intervensi promo khusus dari maskapai penerbangan.

    “Kami berharap ada penguatan kolaborasi dengan maskapai nasional untuk menghadirkan promo bundling ticket dan tour eksklusif selama event pameran berlangsung,” ujarnya.

    Tingginya frekuensi pertanyaan pengunjung mengenai aksesibilitas dan paket perjalanan spesifik juga menunjukkan perlunya keterlibatan lebih banyak pelaku industri wisata lokal dalam kegiatan promosi mendatang.

    Karena itu, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Papua Barat Daya berencana menambah kuota keterlibatan mitra wisata lokal pada event pameran berikutnya guna mengakomodasi antusiasme calon wisatawan secara lebih maksimal.

    Ke depan, pihaknya juga akan mulai melakukan transformasi promosi digital melalui penggunaan e-katalog berbasis QR Code untuk menggantikan sebagian brosur cetak. Langkah tersebut sekaligus diharapkan mampu meningkatkan efisiensi promosi dan menjangkau audiens lebih luas secara daring.

    Optimalisasi promosi digital juga akan dilakukan melalui siaran langsung Instagram, TikTok, hingga virtual tour booth. Bahkan, pengalaman wisata berbasis teknologi Virtual Reality (VR) direncanakan untuk diperkuat agar pengunjung dapat mengenal destinasi unggulan Papua Barat Daya secara virtual dan lebih interaktif.

  • Promosi Besar-besaran di MAX 2026, Papua Barat Daya Bidik Wisatawan dan Investor Dunia

    Melanesiatimes.com, Jakarta – Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya (PBD) terus memperkuat promosi sektor pariwisata bahari dan ekonomi kreatif melalui partisipasi pada ajang Marine Actions Expo (MAX) 2026 yang berlangsung pada 24–26 April 2026 di Balai Kartini, Jakarta Selatan.

    Keikutsertaan dalam event berskala nasional tersebut dinilai strategis untuk memperkenalkan potensi unggulan Papua Barat Daya kepada pasar nasional maupun internasional.

    Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif PBD, Yusdi Lamatenggo, mengatakan MAX 2026 menjadi ruang penting bagi daerah untuk memperkuat citra pariwisata Papua Barat Daya, khususnya wisata bahari yang telah dikenal luas di dunia internasional.

    “Event Marine Actions Expo (MAX) 2026 merupakan salah satu pameran bahari dan pariwisata laut terbesar yang menjadi wadah pertemuan para pelaku industri pariwisata, investor, dan masyarakat umum,” ujar Yusdi.

    Menurutnya, keikutsertaan Papua Barat Daya dalam event tersebut tidak hanya sebatas promosi destinasi wisata, tetapi juga membuka peluang investasi serta kemitraan baru dalam pengembangan sektor pariwisata berkelanjutan di daerah.

    Dalam kegiatan itu, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif PBD menghadirkan Sosialisasi Tourism Information Center (TIC) Digital Papua Barat Daya. Program ini memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk mengenal potensi pariwisata Papua Barat Daya melalui platform digital yang lebih modern dan mudah diakses.Promosi Besar-besaran di MAX 2026, Papua Barat Daya Bidik Wisatawan dan Investor Dunia

    Selain itu, konsep kampanye tanpa kertas atau paperless juga menjadi bagian penting dalam sosialisasi tersebut. Pemerintah daerah mendorong peralihan dari penggunaan media fisik ke sistem digital guna meningkatkan efisiensi sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan.

    “Melalui TIC Digital, masyarakat dan wisatawan bisa lebih mudah mendapatkan informasi tentang destinasi wisata, budaya, hingga potensi bahari Papua Barat Daya secara cepat dan efisien,” katanya.

    Tak hanya fokus pada promosi wisata, pemerintah daerah juga memberikan ruang bagi pengembangan ekonomi kreatif. Berbagai produk UMKM dan ekonomi kreatif khas Papua Barat Daya diperkenalkan kepada pengunjung booth pameran sebagai upaya memperluas pasar produk lokal.

    Produk-produk ekonomi kreatif tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing UMKM lokal sekaligus menjadi bagian dari identitas pariwisata Papua Barat Daya yang memiliki kekayaan budaya dan kerajinan khas daerah.

    Dalam event MAX 2026, transaksi Business to Business (B2B) dan Business to Consumer (B2C) juga menjadi agenda utama. Pelaku industri lokal seperti tour operator dan dive resort menawarkan paket wisata bahari eksklusif dengan promo khusus selama pameran berlangsung.

    Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya juga memfasilitasi pelaku industri lokal seperti biro perjalanan wisata dan pengelola homestay agar dapat bertemu langsung dengan calon pembeli potensial maupun investor di sektor pariwisata.

    “Kami ingin pelaku industri lokal mendapat kesempatan lebih luas untuk membangun jaringan bisnis, memperluas promosi, dan meningkatkan kunjungan wisata ke Papua Barat Daya,” ujar Yusdi.

    Sebagai bagian dari promosi kolaboratif, pengunjung yang aktif berpartisipasi dalam kampanye wisata di media sosial juga mendapatkan berbagai suvenir khas Papua Barat Daya seperti stiker, gelang, tumbler, kipas, hingga buku profil pariwisata daerah.

    Ajang Marine Actions Expo (MAX) 2026 sendiri disebut sukses menarik perhatian publik. Event tersebut diikuti lebih dari 120 hingga 145 booth dari komunitas, pelaku industri, UMKM, hingga perwakilan daerah, serta dikunjungi lebih dari 100 ribu pengunjung.

    Papua Barat Daya memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkuat promosi pariwisata berkelanjutan yang mengedepankan pelestarian alam dan ekowisata. Raja Ampat sebagai ikon utama pariwisata Papua Barat Daya terus dipromosikan sebagai destinasi wisata kelas dunia yang telah memperoleh pengakuan internasional bergengsi, termasuk UNESCO Global Geopark dan Biosphere Reserves.

  • Papua Barat Daya Menuju Destinasi Unggulan, Gubernur Elisa Kambu Ajak Semua Pihak Berkolaborasi

    Melanesiatimes.com, Kota Sorong – Gubernur Provinsi Papua Barat Daya, Elisa Kambu, menyerahkan bantuan hibah barang kepada 17 pelaku pariwisata se-Provinsi Papua Barat Daya sebagai bentuk dukungan pemerintah dalam meningkatkan kualitas layanan kepariwisataan.

    Penyerahan bantuan hibah tersebut berlangsung di lantai III Kantor Gubernur Papua Barat Daya, Kota Sorong, pada Sabtu, (21/02/2026).

    Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pemerintah daerah serta para pelaku usaha pariwisata dari 17 homestay yang di wilayah Papua Barat Daya.

    Bantuan yang diserahkan meliputi peralatan akomodasi, peralatan makan dan minum, peralatan elektronik, serta peralatan kebersihan yang diperuntukkan bagi pelaku pariwisata, khususnya pengelola homestay.

    Dalam sambutannya, Elisa Kambu menegaskan bahwa pemerintah memiliki kewajiban untuk terus mendorong dan mempromosikan potensi pariwisata Papua Barat Daya, baik ke tingkat nasional maupun internasional.

    “Kita di pemerintah punya kewajiban hanya untuk mengampanyekan potensi wisata negeri ini kepada mancanegara dan kepada Nusantara,” ujar Elisa Kambu.

    Ia menyampaikan bahwa promosi yang dilakukan secara konsisten akan membuat banyak orang tertarik dan penasaran untuk datang berkunjung ke Papua Barat Daya.

    “Melalui promosi yang kita lakukan, saya yakin banyak orang sudah mendengar, penasaran, dan berusaha untuk datang ke daerah kita,” katanya.

    Namun demikian, Gubernur menekankan bahwa promosi harus diiringi dengan komitmen bersama untuk menjaga kondisi daerah tetap aman dan kondusif.

    “Yang pertama kita harus pastikan adalah keamanan. Aman itu nomor satu,” tegas Elisa.

    Selain keamanan, ia menyoroti pentingnya kualitas layanan dalam mendukung perkembangan sektor pariwisata.

    “Kualitas layanan itu tidak identik dengan fasilitas yang mewah, tapi dimulai dari hal-hal kecil,” ujarnya.

    Menurut Elisa, kebersihan lingkungan, keaslian alam, rasa nyaman, serta keramahan dalam pelayanan merupakan faktor penting yang menentukan kesan wisatawan.

    “Bagaimana kita menyapa mereka, memberi ruang, dan membuat mereka merasa nyaman, itu yang paling penting,” lanjutnya.

    Gubernur juga menyinggung rencana pengembangan Bandara Domine Eduard Osok Sorong yang telah ditetapkan sebagai bandara internasional mulai 8 Agustus 2025.

    Ia menyebutkan, dalam jangka pendek pemerintah akan mendorong penambahan terminal agar ke depan dapat melayani penerbangan langsung dari dan ke luar negeri.

    “Kalau nanti penerbangan reguler internasional sudah ada, kita harus siap menampung wisatawan yang datang,” katanya.

    Elisa Kambu juga mengajak generasi muda Papua Barat Daya untuk bangkit dan mengambil peran dalam pembangunan sektor pariwisata.

    “Anak-anak muda harus fokus, bekerja keras, dan jangan terpengaruh ajakan-ajakan yang justru menghambat kemajuan,” tegasnya.

    Yusdi Lamatenggo (Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Papua Barat Daya)

    Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Papua Barat Daya, Yusdi Lamatenggo, menjelaskan bahwa 17 pelaku pariwisata penerima hibah merupakan pengelola homestay di sejumlah wilayah wisata.

    “Sebanyak 17 pengelola homestay mendapatkan bantuan berupa tempat tidur, peralatan makan dan minum, peralatan kebersihan, peralatan elektronik, hingga solar panel dan sarana transportasi,” ungkap Yusdi.

    Ia mengatakan, bantuan tersebut diberikan sesuai dengan kebutuhan dan usulan masing-masing pengelola homestay, sehingga tidak bersifat seragam.

    “Ini bukan pertama kali, tahun ini sudah yang kedua, dan sifatnya stimulan untuk meningkatkan kualitas pelayanan,” jelasnya.

    Yusdi menambahkan, saat ini terdapat sekitar 300 homestay di Papua Barat Daya sehingga bantuan dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran.

    “Kita punya keinginan besar untuk membantu semua, tapi dilakukan secara bertahap,” katanya.

    Selain memberikan bantuan, pemerintah provinsi juga melakukan pendampingan dan monitoring melalui asosiasi homestay.

    “Mereka melaporkan jumlah tamu, lama menginap, serta kendala yang dihadapi, dan itu menjadi bahan evaluasi kami,” ujarnya.

    Ia juga menegaskan bahwa promosi homestay terus dilakukan dengan melibatkan pengelola dalam berbagai event dan pameran pariwisata.

    “Dalam setiap pameran, kami selalu membawa teman-teman pengelola homestay untuk promosi,” katanya.

    Menutup kegiatan tersebut, Gubernur Elisa Kambu kembali menekankan pentingnya peran media dalam menyebarluaskan informasi tentang potensi wisata Papua Barat Daya.

    “Media punya peran penting untuk membantu menyebarkan informasi tentang keindahan alam Papua, baik di pegunungan, lembah, maupun pantai, seperti di Tambrauw, Sorong Selatan, Maybrat, dan Raja Ampat,” ucapnya.

    Ia optimistis, dengan keamanan yang terjaga, kebersihan yang diperhatikan, serta kualitas layanan yang terus ditingkatkan, Papua Barat Daya akan kebanjiran kunjungan wisatawan dan berkembang sebagai destinasi unggulan.

    Papua Barat Daya Menuju Destinasi Unggulan, Gubernur Elisa Kambu Ajak Semua Pihak Berkolaborasi
    Gubernur Papua Barat Daya Kambu, menyerahkan bantuan hibah barang kepada 17 pelaku pariwisata se-Provinsi Papua Barat Daya