Tag: Disparekraf Papua Barat Daya

  • Dorong Promosi Wisata Digital, Disparekraf PBD Bekali 15 Influencer OAP dengan Peralatan Konten

    Melanesiatimes.com, Kota Sorong PBD – Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi Papua Barat Daya terus mendorong transformasi digital dalam sektor pariwisata, khususnya melalui penguatan promosi destinasi wisata berbasis media sosial.

    Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Influencer Gathering yang digelar di Universitas Kristen Papua (UKIP) Kota Sorong, Sabtu (29/8/2026). Kegiatan ini secara khusus menyasar generasi muda Orang Asli Papua (OAP) agar mampu menjadi influencer sekaligus kreator konten pariwisata.

    Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya, Yusdi Lamatenggo, mengatakan penggunaan influencer menjadi salah satu strategi promosi yang dinilai relevan dengan perkembangan perilaku wisatawan saat ini, terutama kalangan Generasi Z.

    “Wisata sekarang terus kita dorong untuk masuk ke sistem digitalisasi pariwisata. Pengembangan wisata digital itu termasuk dalam hal promosi. Kita mau dorong sekarang promosi menggunakan influencer,” kata Yusdi.

    Menurutnya, wisatawan dari kalangan Gen Z cenderung lebih banyak mencari informasi melalui media sosial dibandingkan mengandalkan pola promosi konvensional seperti iklan televisi maupun media tradisional lainnya.

    “Kenapa influencer? Karena ini sedang menjadi tren dunia. Wisatawan Gen Z sekarang lebih suka mendapatkan informasi dari influencer dan media sosial. Mereka tidak terlalu banyak terlibat dalam iklan-iklan tradisional,” jelasnya.

    Yusdi menilai Papua Barat Daya memiliki potensi besar karena telah memiliki sejumlah influencer muda, khususnya dari kalangan OAP. Karena itu, pemerintah daerah berupaya meningkatkan kapasitas mereka agar dapat menghasilkan konten promosi wisata yang kreatif dan berkualitas.

    “Tahun ini kita mau dorong. Ini merupakan pertemuan kedua, setelah yang pertama dua tahun lalu. Sekarang kita dorong khusus anak-anak Orang Asli Papua, teman-teman yang masih muda untuk menjadi influencer,” ujarnya.

    Dalam kegiatan tersebut, para peserta mendapatkan pelatihan dari instruktur yang memiliki pengalaman di bidang pembuatan konten digital. Selain peningkatan kapasitas, Disparekraf Papua Barat Daya juga memberikan dukungan peralatan kepada tim influencer untuk menunjang aktivitas pembuatan konten di berbagai destinasi wisata.

    Kadisparekraf Papua Barat Daya Yusdi Lamatenggo turut menyerahkan secara langsung sejumlah alat pendukung kepada tim influencer. Peralatan tersebut terdiri dari satu unit smartphone, tripod, dan mikrofon.

    “Para influencer ini kita bekali dengan sarana yang bisa membuat konten dengan baik. Ada smartphone, tripod, mikrofon dan sebagainya, sehingga mereka bisa melakukan atau membuat konten, termasuk melakukan streaming dari objek wisata,” jelas Yusdi.Dorong Promosi Wisata Digital, Disparekraf PBD Bekali 15 Influencer OAP dengan Peralatan Konten

    Menurutnya, dukungan peralatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dan kreativitas para influencer dalam mempromosikan destinasi wisata Papua Barat Daya secara lebih menarik dan kekinian.

    Yusdi mencontohkan, para influencer dapat melakukan siaran langsung dari sejumlah destinasi wisata seperti kawasan mangrove, Tanjung Kasuari maupun Pantai Sop. Melalui konten dan siaran langsung tersebut, masyarakat dapat melihat secara langsung aktivitas maupun kondisi destinasi wisata.

    “Misalnya streaming dari mangrove, Tanjung Kasuari atau Pantai Sop. Itu akan membuat orang melihat secara langsung bahwa di sana sedang ada kegiatan wisata. Sehingga bisa menggugah orang untuk datang berkunjung ke suatu tempat wisata,” tuturnya.

    Disparekraf Papua Barat Daya menargetkan sebanyak 15 influencer muda OAP dapat dibina melalui program tersebut. Mereka diharapkan konsisten berkarya dan mampu memperkenalkan berbagai potensi wisata Papua Barat Daya hingga ke tingkat nasional maupun internasional.

    Yusdi mengatakan, para peserta nantinya tidak hanya diarahkan untuk membuat konten mengenai destinasi wisata alam, tetapi juga dapat mengangkat kekayaan budaya serta berbagai potensi ekonomi kreatif yang ada di wilayah Papua Barat Daya.

    Dalam pelaksanaan kegiatan ini, Disparekraf Papua Barat Daya menggandeng UKIP Kota Sorong. Yusdi mengatakan kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan sumber daya manusia di bidang ekonomi kreatif dan promosi digital pariwisata.

    “Kita bekerja sama dengan UKIP karena para pelatih di sini sudah cukup tersedia. SDM di UKIP luar biasa, dan saya pikir kerja sama kita dengan UKIP akan terus kita lanjutkan ke depan,” ungkapnya.

    Ia menegaskan, keberadaan tenaga pelatih dan instruktur di Papua Barat Daya menjadi modal penting untuk meningkatkan kapasitas generasi muda tanpa harus selalu mendatangkan tenaga pelatih dari luar daerah.

    “Kita tidak perlu mendatangkan dari Jawa. Di Papua sendiri, di Sorong, UKIP sudah siap untuk terus berkolaborasi dengan kami. Mereka menyiapkan para pelatih dan instruktur yang bisa mendorong influencer di Tanah Papua, khususnya Papua Barat Daya, untuk terus belajar dan menghasilkan karya-karya konten yang luar biasa,” tutupnya.

  • Dorong Anak Muda OAP Jadi Konten Kreator, Disparekraf PBD Gelar Pelatihan Konten Digital

    Melanesiatimes.com, Kabupaten Sorong – Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Dispar Ekraf) Provinsi Papua Barat Daya terus mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia Orang Asli Papua (OAP) di bidang ekonomi kreatif. Salah satunya melalui pelatihan pembuatan dan pengembangan konten kreatif berbasis digital yang digelar selama dua hari, 27–28 Agustus 2026.

    Kegiatan yang berlangsung di Rumah Etnik Kabupaten Sorong tersebut diikuti 30 peserta yang berasal dari kelompok dan komunitas pelaku ekonomi kreatif OAP. Para peserta mendapatkan pembekalan dari akademisi serta konten kreator profesional.

    Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya, Yusdi Lamatenggo, mengatakan pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah menyiapkan generasi muda Papua agar mampu memanfaatkan teknologi digital untuk mengangkat potensi daerah.

    Menurutnya, peserta tidak hanya diberikan pemahaman mengenai ekonomi kreatif berbasis konten digital dan kearifan lokal, tetapi juga dibekali keterampilan teknis produksi foto, video, editing menggunakan smartphone, storytelling, hingga strategi mendistribusikan konten melalui media sosial.

    “Kita punya kearifan lokal yang banyak. Kita punya kekayaan khas Papua, ada noken yang sudah diakui UNESCO. Semua kekayaan budaya ini akan lebih bermakna jika potensi yang kita miliki dipromosikan oleh anak-anak lokal kita sendiri,” ujar Yusdi.

    Ia menilai Papua Barat Daya memiliki kekayaan yang sangat besar, mulai dari alam, budaya, sejarah, kesenian hingga kerajinan. Potensi tersebut, kata dia, harus dikemas dalam bentuk konten kreatif agar dapat dikenal masyarakat luas sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi pelaku usaha lokal.

    “Alangkah indahnya kalau potensi yang kita miliki—alam, budaya, sejarah, kesenian, kerajinan—itu dipromosikan oleh anak-anak lokal kita sendiri,” katanya.

    Yusdi juga mendorong para peserta agar tidak hanya memproduksi konten selama mengikuti pelatihan, tetapi mampu melanjutkan aktivitas kreatif tersebut setelah kegiatan berakhir. Ia bahkan berharap dari 30 peserta yang mengikuti pelatihan dapat lahir 30 konten kreator muda OAP yang aktif hingga akhir tahun.

    “Saya berharap akhir tahun saya punya 30 orang konten kreator anak muda asli Papua,” tegasnya.

    Untuk memastikan pelatihan memberikan hasil nyata, Yusdi meminta agar pada saat penutupan nanti setiap peserta mampu menunjukkan karya yang telah dihasilkan selama mengikuti proses pembelajaran.

    “Saya pengin lihat minimal satu contoh, bikin apa selama pelatihan. Kontennya banyak, tinggal pilih-pilih saja. Ambil siapa, ambil siapa, baru bikin konten,” ujarnya.

    Ia juga memberikan gambaran kepada peserta agar kreativitas dalam membuat konten tidak harus selalu menggunakan konsep atau fasilitas yang besar. Menurutnya, potensi lokal di sekitar masyarakat dapat menjadi bahan konten yang menarik apabila dikemas secara kreatif.

    “Kalau mau bikin jelajah, tidak harus selalu dengan motor. Bisa bikin sepeda mini jelajah, putar-putar kampung, itu juga bisa menjadi konten,” kata Yusdi.

    Selain keterampilan produksi, Yusdi mengingatkan peserta mengenai pentingnya konsistensi dan kesiapan teknis dalam memproduksi serta mengunggah konten ke media sosial. Ia menyebut keterbatasan jaringan maupun kuota internet sebagai salah satu kendala yang perlu diperhatikan.

    “Kita mau bikin konten banyak-banyak, tetapi pulsa atau data tidak ada, sama saja. Itu juga menjadi kendala yang harus diperhatikan,” tuturnya.

    Ia berharap seluruh peserta mengikuti pelatihan dengan serius dan dapat menyelesaikan kegiatan dengan baik. Panitia juga diminta memastikan seluruh proses berjalan lancar sehingga peserta dapat memperoleh manfaat maksimal dari pelatihan.

    “Adik-adik semua harus belajar dengan baik. Ini dipastikan semua lancar, tidak ada yang sakit, semua bisa mengikuti kegiatan dengan baik dan menghasilkan karya,” pesannya.

    Pelaksanaan pelatihan ini merupakan bagian dari Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Tingkat Lanjutan Tahun Anggaran 2026. Kegiatan tersebut dibiayai melalui APBD Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya yang bersumber dari Dana Otonomi Khusus.

    Melalui kegiatan ini, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya berharap semakin banyak pelaku ekonomi kreatif OAP yang mampu menjadi kreator digital, sekaligus mempromosikan kekayaan lokal Papua secara mandiri, kreatif, inovatif, adaptif, dan berdaya saing.

    Upaya tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat kapasitas sumber daya manusia, tetapi juga membuka peluang kolaborasi, pendampingan, serta menciptakan nilai ekonomi baru dari potensi budaya dan kearifan lokal Papua melalui platform digital.

  • Disparekraf PBD Gelar Pelatihan Keselamatan Wisata, Bekali Pengelola Wisata Hadapi Situasi Darurat

    Melanesiatimes.com, Kota Sorong – Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi Papua Barat Daya menggelar pelatihan peningkatan keselamatan wisata bagi para pengelola dan pelaku sektor pariwisata di Papua Barat Daya. Kegiatan tersebut berlangsung di Akademi Perikanan Sorong (Apsor), pada Rabu (26/8/2026).

    Sekretaris Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya, Irman Murafer, mengatakan kegiatan keselamatan wisata tersebut merupakan program Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia melalui Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan.

    “Kegiatan Keselamatan Wisata ini merupakan program Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, melalui Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan, yang dilaksanakan melalui Tugas Pembantuan (TP) oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya,” ujar Irman.

    Menurutnya, program tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di sektor pariwisata, khususnya dalam aspek keselamatan dan kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat di destinasi wisata.

    Secara nasional, program tersebut dilaksanakan di 38 daerah dengan sasaran sebanyak 1.024 peserta. Sementara Provinsi Papua Barat Daya mendapatkan kuota sebanyak 30 peserta.

    Pelatihan berlangsung selama dua hari, yakni 26–27 Agustus 2026, dengan total 16 jam pembelajaran. Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan materi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sorong selama tiga jam serta Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) selama sembilan jam.

    “Materi teori diberikan selama enam jam pada hari pertama, kemudian pada hari kedua dilanjutkan dengan praktik lapangan selama enam jam yang berfokus pada keselamatan wisata,” jelasnya.

    Usai menerima materi dari Basarnas, peserta kemudian mengikuti praktik lapangan berupa simulasi penyelamatan korban tenggelam di laut. Kegiatan tersebut dilaksanakan di kawasan Pantai Suprau, Kota Sorong.

    Dalam simulasi tersebut, peserta diberikan pengalaman langsung mengenai bagaimana melakukan pertolongan dan evakuasi terhadap korban yang mengalami kecelakaan di kawasan wisata perairan.

    Tidak hanya simulasi penyelamatan korban tenggelam, peserta juga dilatih mengenai cara memberikan penanganan awal terhadap korban yang mengalami kondisi pingsan hingga korban yang mengalami patah tulang di kawasan pantai.

    Materi praktik ini diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan para pengelola destinasi wisata, sehingga mereka mampu mengambil tindakan awal secara cepat dan tepat sebelum korban mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

    Sebanyak 30 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari berbagai unsur, termasuk 15 orang pengelola objek wisata di kawasan pesisir Tanjung Kasuari dan Suprau.

    Selain itu, lima peserta berasal dari asosiasi pariwisata, termasuk Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) dan Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA). Peserta lainnya berasal dari kalangan perguruan tinggi, relawan tanggap bencana, Politeknik Perikanan Sorong, serta Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI).

    Pengelola desa wisata dari Arar, Kabupaten Sorong, juga turut ambil bagian dalam pelatihan tersebut.

    Irman menjelaskan, tujuan utama kegiatan adalah memperkuat kemampuan para pengelola destinasi wisata agar mampu merespons dengan cepat ketika terjadi keadaan darurat maupun bencana di lokasi wisata.

    “Tujuan utamanya adalah memperkuat kemampuan para pengelola tempat wisata, khususnya dalam merespons secara cepat ketika menghadapi kejadian darurat atau bencana di lokasi wisata,” katanya.

    Ia mengatakan, kejadian seperti orang tenggelam saat berenang atau bermain di pantai merupakan salah satu risiko yang dapat terjadi di destinasi wisata, sehingga pengelola harus memiliki pengetahuan dasar mengenai keselamatan dan pertolongan pertama.

    “Sering kita jumpai kasus orang tenggelam saat berenang atau bermain di pantai. Pelatihan ini membekali mereka dengan langkah-langkah penanganan awal, sehingga mereka tidak hanya menjadi pengelola, tetapi juga dapat berperan sebagai tim tanggap darurat ketika terjadi kecelakaan di area wisata,” ungkap Irman.

    Menurutnya, kemampuan tersebut sangat penting, terutama bagi pengelola desa wisata dan destinasi yang berada di kawasan pesisir. Dengan adanya pelatihan ini, pengelola diharapkan lebih siap dalam memberikan pertolongan awal sekaligus meminimalkan risiko yang dapat membahayakan wisatawan.

    “Pelatihan ini sangat berguna bagi para pengelola desa wisata. Kami berharap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan di destinasi masing-masing, sehingga aspek keselamatan wisatawan semakin menjadi perhatian dalam pengembangan pariwisata di Papua Barat Daya,” pungkasnya.

  • Pemandu Wisata Papua Barat Daya Kantongi Sertifikat Kompetensi Nasional, Siap Bersaing di Tingkat Nasional

    Melanesiatimes.com, Kota Sorong – Pelatihan dan Sertifikasi Kompetensi Pemandu Wisata yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya resmi ditutup setelah berlangsung selama tiga hari, 10–12 Juni 2026, di Swiss-Belhotel Kota Sorong Papua Barat Daya.

    Kegiatan ini menjadi langkah strategis pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) sektor pariwisata agar mampu memberikan pelayanan berstandar nasional.

    Usai pelatihan, para peserta secara simbolis menerima sertifikat kompetensi sebagai bentuk pengakuan atas kompetensi yang telah dimiliki. Penyerahan sertifikat tersebut menjadi penanda bahwa para pemandu wisata telah memperoleh pengakuan resmi sesuai standar kompetensi nasional di bidang kepemanduan wisata.

    Selain pelatihan dan sertifikasi, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya juga menyerahkan bantuan peralatan operasional kepada para pemandu wisata sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan kualitas layanan pariwisata.

    Bantuan tersebut terdiri atas delapan unit radio komunikasi (HT), delapan unit GPS Maps, 76 unit life jacket, serta 40 unit wireless microphone yang diharapkan dapat menunjang tugas para pemandu wisata dalam memberikan pelayanan yang aman, nyaman, dan profesional kepada wisatawan.

    Pemandu Wisata Papua Barat Daya Kantongi Sertifikat Kompetensi Nasional, Siap Bersaing di Tingkat Nasional
    Pemandu Wisata Papua Barat Daya Kantongi Sertifikat Kompetensi Nasional, Siap Bersaing di Tingkat Nasional

    Instruktur sekaligus pemateri pelatihan, Dr. Farid Said, M.Pd., CHE., CTE., menegaskan bahwa kualitas SDM merupakan fondasi utama dalam membangun sektor pariwisata yang berdaya saing.

    “Pariwisata itu hulunya adalah SDM. Mau bersaing dengan destinasi lain, SDM-nya harus dipersiapkan terlebih dahulu. Pemandu wisata hanya bagian kecil dari ekosistem. Kalau sopir, motoris, resepsionis, atau pelaku wisata lainnya tidak kompeten, maka pelayanan juga tidak akan maksimal. Karena itu semua profesi di sektor pariwisata harus memiliki standar kompetensi yang sama,” ujarnya.

    Menurut Farid, Kementerian Pariwisata telah menetapkan sekitar 400 skema profesi di bidang pariwisata yang dijabarkan melalui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan dilaksanakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP).

    Ia menjelaskan bahwa sertifikasi kompetensi bukanlah sebuah ujian, melainkan bentuk pengakuan resmi terhadap kemampuan seseorang yang telah terbukti melalui pengalaman kerja.

    “Sertifikasi kompetensi adalah pengakuan. Dari 40 peserta yang mengikuti kegiatan ini, mereka pada dasarnya sudah memiliki pengalaman di lapangan, tinggal diakui oleh pemerintah. Sertifikat kompetensi memiliki lambang Garuda, artinya diakui oleh pemerintah pusat melalui BNSP,” jelasnya.

    Farid juga mengungkapkan bahwa sertifikat kompetensi memiliki nilai yang sangat tinggi karena mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).

    “Perpres Nomor 8 Tahun 2012 menyatakan bahwa sertifikat kompetensi ini setara dengan Diploma 1. Jadi ini bukan sekadar sertifikat pelatihan biasa, tetapi pengakuan resmi atas kompetensi seseorang,” katanya.

    Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa sertifikat tersebut berlaku secara nasional sehingga membuka peluang kerja yang lebih luas bagi para pemandu wisata.

    “Sertifikat kompetensi ini berlaku secara nasional. Bahkan tersedia juga skema internasional bagi mereka yang memenuhi persyaratan, terutama kemampuan berbahasa Inggris. Ke depan, saya berharap tidak hanya pemandu wisata yang disertifikasi, tetapi juga sopir dan motoris agar seluruh ekosistem pariwisata memiliki standar pelayanan yang sama,” tambahnya.

    Sementara itu, Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Papua Barat Daya, Michael Mobalen, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya melalui Dinas Pariwisata yang telah memfasilitasi pelaksanaan pelatihan dan sertifikasi kompetensi tersebut.

    “Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya, khususnya Dinas Pariwisata, yang telah mengakomodasi kegiatan ini sehingga teman-teman pemandu wisata dapat memperoleh pengakuan kompetensi secara resmi. Selama ini mereka sudah bekerja, tetapi legalitasnya kini dibuktikan melalui sertifikat kompetensi,” ujarnya.

    Michael juga mengapresiasi LSP Anging Mamiri yang telah memberikan materi dan pembekalan kepada para peserta selama pelatihan.

    “Kami mendapatkan banyak pengetahuan baru mengenai teknik-teknik kepemanduan wisata. Walaupun sudah terbiasa bekerja di lapangan, pelatihan ini memberikan wawasan baru yang sangat bermanfaat,” katanya.

    Ia menjelaskan, peserta pelatihan berasal dari seluruh pengurus HPI di Papua Barat Daya, yakni Kota Sorong, Kabupaten Sorong, Raja Ampat, Sorong Selatan, dan Maybrat. Seluruh peserta merupakan Orang Asli Papua (OAP).

    Menurut Michael, sertifikat kompetensi akan meningkatkan rasa percaya diri para pemandu wisata sekaligus membuka peluang untuk bekerja di berbagai daerah di Indonesia.

    “Dengan adanya sertifikat ini, teman-teman menjadi lebih percaya diri dan memiliki kesempatan untuk meningkatkan jam terbang, tidak hanya di daerah masing-masing tetapi juga di berbagai wilayah lain di Indonesia,” tuturnya.

    Michael turut menyampaikan apresiasi atas bantuan peralatan operasional yang diberikan oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya. Menurutnya, bantuan tersebut sangat dibutuhkan untuk mendukung pelayanan kepada wisatawan, terutama saat menangani rombongan dalam jumlah besar.

    “Kami sangat bersyukur atas bantuan alat pendukung yang diberikan. Selama ini kami sering mengalami kendala saat memandu tamu dalam jumlah besar, khususnya wisatawan kapal pesiar. Dengan adanya wireless microphone ini, komunikasi dengan tamu akan jauh lebih efektif sehingga pelayanan kepada wisatawan dapat semakin optimal,” pungkasnya.

  • Pelatihan Pemandu Wisata Papua Barat Daya Ditutup, Pemprov Perkuat SDM Menuju Destinasi Wisata Kelas Dunia

    Melanesiatimes.com, Kota Sorong – Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya resmi menutup kegiatan Pelatihan Kompetensi dan Sertifikasi Kompetensi Pemandu Wisata yang berlangsung selama tiga hari, 10–12 Juni 2026, di Swiss-Belhotel Kota Sorong Papua Barat Daya.

    Pelatihan tersebut menghadirkan instruktur nasional asal Makassar, Farid Said, bersama dua orang tim yang memberikan materi dan pembekalan kepada para peserta sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) sektor pariwisata di Papua Barat Daya.

    Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya, Yusdi Lamatenggo, menegaskan bahwa pembangunan sektor pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam maupun kemegahan fasilitas, melainkan harus didukung oleh pelayanan yang berkualitas.

    “Pariwisata itu sangat luas. Kita mulai menata sumber daya manusia terlebih dahulu. Keindahan alam dan kemegahan gedung bukan segala-galanya. Yang menentukan keberhasilan pariwisata adalah pelayanan atau service yang diberikan kepada wisatawan,” ujar Yusdi.

    Ia menjelaskan, destinasi wisata yang indah sekalipun tidak akan mampu menarik wisatawan untuk kembali apabila pelayanan yang diberikan tidak memuaskan.

    Pelatihan Pemandu Wisata Papua Barat Daya Ditutup, Pemprov Perkuat SDM Menuju Destinasi Wisata Kelas Dunia
    Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya, Yusdi Nurdin Lamatenggo, S.Pi, M.Si

    “Restoran boleh bagus, tetapi kalau pelayanannya tidak memuaskan, orang tidak akan datang lagi. Destinasi boleh indah, tetapi kalau pelayanannya buruk, wisatawan cukup sekali saja datang ke sana,” katanya.

    Menurutnya, kualitas pelayanan sangat bergantung pada kompetensi sumber daya manusia. Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya berkomitmen meningkatkan kompetensi seluruh pelaku industri pariwisata, mulai dari pekerja hotel, homestay, resort, kapal wisata hingga pemandu wisata.

    “Kita wajib memberikan pelayanan terbaik kepada wisatawan. Tuhan sudah menganugerahkan Raja Ampat dan kekayaan alam Papua Barat Daya. Tugas kita adalah menjaga dan merawatnya serta memberikan pelayanan terbaik kepada setiap tamu yang datang,” ungkapnya.

    Yusdi juga menyebut pemandu wisata merupakan ujung tombak yang menentukan citra pariwisata daerah di mata wisatawan.

    “Semua perilaku dan kemampuan seorang pemandu dalam menjelaskan potensi wisata akan menjadi wajah pariwisata Papua Barat Daya. Kalau pemandunya bagus, maka citra pariwisata kita juga akan baik,” tegasnya.

    Ia berharap para peserta terus meningkatkan kemampuan dan tidak berhenti belajar meskipun telah memperoleh sertifikasi kompetensi.

    “Belajar itu tidak mengenal batas waktu. Saya berharap tiga tahun ke depan teman-teman bukan hanya menjadi pemandu wisata, tetapi sudah berkembang menjadi pelaku usaha pariwisata yang sukses,” harapnya.

    Sementara itu, penutupan kegiatan dilakukan oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Papua Barat Daya, Victor Solossa, S.Pd., S.T., M.T., yang mewakili Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya.

    Dalam sambutannya, Victor mengatakan bahwa pelaksanaan pelatihan tersebut merupakan implementasi visi dan misi Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya melalui program prioritas pembangunan, khususnya dalam mendukung Papua Produktif melalui pemanfaatan Dana Otonomi Khusus (Otsus).

    “Kegiatan ini merupakan bagian dari program besar pemerintah yang bersifat berkelanjutan. Tujuannya adalah meningkatkan kapasitas masyarakat, khususnya Orang Asli Papua, agar mampu memperoleh manfaat ekonomi dari sektor pariwisata,” ujarnya.

    Pelatihan Pemandu Wisata Papua Barat Daya Ditutup, Pemprov Perkuat SDM Menuju Destinasi Wisata Kelas Dunia
    Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Papua Barat Daya (PBD) saat ini dijabat oleh Victor Solossa, S.Pd., ST., MT.

    Ia menambahkan, pengembangan pariwisata membutuhkan keterlibatan banyak sektor, tidak hanya pemandu wisata, tetapi juga transportasi, perhotelan, pelabuhan, bandara, kesehatan, hingga infrastruktur.

    “Pariwisata bukan hanya urusan pemandu wisata. Semua sektor harus bergerak bersama agar pelayanan kepada wisatawan semakin baik dan memberikan pengalaman terbaik saat berkunjung ke Papua Barat Daya,” katanya.

    Victor juga menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi terus melakukan berbagai pembenahan infrastruktur penunjang pariwisata, mulai dari pengembangan Bandara Domine Eduard Osok (DEO) Sorong hingga penataan kawasan pelabuhan rakyat, termasuk pembangunan fasilitas bagi pelaku UMKM Orang Asli Papua.

    Sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan kualitas pelayanan wisata, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya turut menyerahkan bantuan peralatan operasional kepada para pemandu wisata yang terdiri dari delapan unit radio komunikasi (HT), delapan unit GPS Maps, 76 life jacket, serta 40 unit wireless microphone.

    Melalui pelatihan dan pemberian bantuan tersebut, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya berharap para pemandu wisata semakin profesional, kompeten, dan mampu memberikan pelayanan berstandar internasional guna mendukung terwujudnya Papua Barat Daya sebagai destinasi wisata kelas dunia yang berkelanjutan.