Tag: Karhutla

  • Kualitas Udara Sorong Memburuk, George Dedaida Desak Satgas Karhutla Bertindak Cepat

    Melanesiatimes.com, Kota Sorong — Kondisi kualitas udara di Kota Sorong dan wilayah sekitarnya yang kian memprihatinkan mendorong Kepala Suku Besar IMEKKO, George Dedaida, S.Hut., M.Si., meminta Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) Provinsi Papua Barat Daya segera mengambil langkah nyata untuk mengatasi pencemaran udara.

    Desakan tersebut disampaikan menyusul hasil pemantauan kualitas udara yang menunjukkan tingginya konsentrasi partikel halus PM2.5. Kondisi ini dinilai perlu mendapat perhatian serius karena dapat berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan.

    Berdasarkan data BMKG melalui Stasiun Pemantau Global Sorong, PM2.5 merupakan partikel udara berukuran kurang dari 2,5 mikrometer yang dapat membahayakan kesehatan apabila terhirup dalam konsentrasi tinggi. Adapun nilai ambang batas (NAB) PM2.5 untuk pengukuran selama 24 jam ditetapkan sebesar 55 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

    Data pengamatan pada 10 Oktober 2026 pukul 09.00 WIT hingga 11 Oktober 2026 pukul 08.00 WIT memperlihatkan kondisi yang mengkhawatirkan. Dari seluruh periode pemantauan, selama empat jam kualitas udara tercatat berada pada kategori Sangat Tidak Sehat, sedangkan 20 jam lainnya masuk kategori Tidak Sehat.

    Peningkatan konsentrasi PM2.5 tersebut secara umum dipengaruhi pergerakan massa udara dari arah tenggara dan selatan yang membawa partikel dari wilayah dengan banyak titik panas atau hotspot menuju lokasi pengamatan. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kota Sorong pada periode tersebut juga menunjukkan kategori Tidak Sehat.

    Menanggapi kondisi itu, George menilai pemerintah daerah tidak boleh menunggu sampai jumlah penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) meningkat sebelum mengambil tindakan. Menurutnya, langkah pencegahan dan perlindungan kesehatan warga harus dilakukan sejak dini.

    “Ini sudah darurat pernapasan. Jangan sampai rumah sakit penuh dengan pasien ISPA baru pemerintah bergerak. Pencegahan harus dilakukan sejak awal,” tegas George kepada wartawan di Sorong, Senin (12/10/2026).

    Ia meminta Gubernur Papua Barat Daya selaku Ketua Satgas Karhutla segera mengonsolidasikan seluruh unsur terkait untuk mempercepat penanganan kebakaran. Upaya tersebut, menurutnya, perlu mencakup pemadaman titik api, perlindungan masyarakat dari paparan asap, serta dukungan anggaran darurat apabila dibutuhkan.

    George juga mendorong pemerintah mengkaji kemungkinan penerapan teknologi modifikasi cuaca untuk membantu memicu hujan sebagai salah satu upaya mendukung penanganan kebakaran. Namun, langkah tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi cuaca dan hasil kajian teknis pihak berwenang.

    Selain itu, ia menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor dengan melibatkan pemerintah kabupaten dan kota, aparat keamanan, serta perusahaan yang beroperasi di wilayah Papua Barat Daya. Menurutnya, penanganan kebakaran dan dampak asap tidak akan berjalan optimal tanpa koordinasi yang kuat antarpihak.

    George turut mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan untuk sementara waktu serta membatasi kegiatan di luar ruangan selama kualitas udara masih buruk. Warga yang harus beraktivitas di luar rumah juga disarankan menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel halus.

    Ia menegaskan, keselamatan dan kesehatan masyarakat harus menjadi prioritas dalam setiap kebijakan penanganan karhutla. Pemerintah, kata dia, perlu bertindak cepat agar pencemaran udara tidak berkembang menjadi persoalan kesehatan yang lebih luas.

    “Jangan sampai jatuh korban baru pemerintah bertindak. Kalau penanganan lambat, masyarakat yang akan menanggung akibatnya. Jika diperlukan, persoalan ini harus dibawa ke pemerintah pusat agar mendapat dukungan penanganan, termasuk pemadaman kebakaran,” pungkasnya.

  • Asap Tebal Selimuti Kota Sorong, Wali Kota Turun Tinjau Kebakaran di TPA Makbon

    Melanesiatimes.com, Kota Sorong — Kebakaran yang melanda kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sorong-Makbon selama kurang lebih satu pekan menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Sorong. Wali Kota Sorong, Septinus Lobat, turun langsung meninjau lokasi kebakaran pada Jumat (9/10/2026).

    Wali Kota Sorong Septinus Lobat, melihat kondisi terkini sekaligus menentukan langkah penanganan yang perlu segera dilakukan.

    Dalam peninjauan tersebut, Septinus didampingi sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Sorong, di antaranya perwakilan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Komunikasi dan Informatika, serta personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

    Saat berada di lokasi, rombongan mendapati sejumlah titik masih mengeluarkan asap tebal. Kepulan asap menyebar di sekitar kawasan TPA dan menambah kekhawatiran terhadap dampak kabut asap yang belakangan mengganggu aktivitas masyarakat di Kota Sorong.

    Menindaklanjuti kondisi tersebut, Septinus mengatakan pemerintah daerah akan menggelar rapat teknis bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk merumuskan langkah penanganan karhutla. Rapat tersebut diharapkan menghasilkan solusi konkret guna mengendalikan titik-titik api sekaligus mengurangi produksi asap.

    “Setelah kami turun ke lapangan, kami akan mengundang semua OPD teknis untuk bersama-sama mencari solusi agar api atau titik-titik api yang ada di sini bisa dipadamkan. Harapan kami, asap bisa berkurang,” ujar Septinus.

    Ia menjelaskan, kawasan TPA Sorong-Makbon memiliki luas sekitar 10 hektare. Namun, hingga peninjauan berlangsung, penyebab kebakaran belum dapat dipastikan dan masih memerlukan penelusuran lebih lanjut.

    Berdasarkan informasi yang diterima pemerintah dari warga sekitar, kebakaran telah berlangsung selama kurang lebih satu pekan. Kondisi ini membutuhkan penanganan secara terpadu, terutama untuk mengendalikan titik api yang masih aktif dan meminimalkan dampak karhutla terhadap lingkungan serta masyarakat di sekitarnya.

    Septinus juga mengakui kebakaran di TPA Sorong-Makbon menjadi salah satu sumber asap yang diduga berkontribusi terhadap kabut asap di Kota Sorong. Meski demikian, ia menyebut kemungkinan adanya sumber asap lain dari sejumlah wilayah, termasuk Raja Ampat, Maybrat, dan Teluk Bintuni.

    Menurutnya, kabut asap yang menyelimuti sejumlah kawasan turut berdampak pada aktivitas penerbangan. Jarak pandang yang menurun akibat asap berpotensi mengganggu operasional pesawat, baik saat lepas landas maupun ketika hendak mendarat.

    “Ini menjadi tugas berat bagi pemerintah. Kita semua punya tanggung jawab untuk melihat titik-titik api yang menimbulkan asap dan mengambil langkah-langkah agar dampaknya bisa dikurangi,” katanya.

    Pemerintah Kota Sorong, lanjut Septinus, akan memperkuat koordinasi lintas OPD untuk menentukan tindakan yang dibutuhkan sesuai kondisi di lapangan. Upaya tersebut diharapkan tidak hanya membantu memadamkan kebakaran di TPA Sorong-Makbon, tetapi juga menekan penyebaran asap yang mengganggu aktivitas masyarakat.

    Di sisi lain, Septinus mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran secara sembarangan, terutama ketika membuka lahan untuk berkebun. Kondisi cuaca panas dan musim kering dapat meningkatkan risiko terjadinya karhutla apabila aktivitas pembukaan lahan tidak dilakukan dengan hati-hati.

    “Saya sudah menyampaikan imbauan ini jauh-jauh hari saat apel. Kami dari Pemerintah Kota Sorong memohon kepada seluruh warga agar tidak membakar sembarangan. Ketika membuka lahan untuk berkebun, jangan sampai menggunakan cara membakar,” tegasnya.

    Ia juga mengingatkan bahwa paparan asap akibat karhutla berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat. Karena itu, warga diminta meningkatkan kewaspadaan dan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, khususnya ketika kondisi udara dipenuhi asap.

    Dengan jumlah penduduk Kota Sorong yang disebut mencapai sekitar 302 ribu jiwa, Septinus menilai persoalan kabut asap perlu menjadi perhatian bersama. Menurutnya, penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi masyarakat untuk mencegah munculnya titik api baru.

    Pemerintah Kota Sorong berharap koordinasi lintas OPD segera menghasilkan langkah konkret untuk menangani kebakaran di TPA Sorong-Makbon. Hingga peninjauan dilakukan, penyebab kebakaran masih belum diketahui secara pasti. Pengendalian titik api dan pengurangan kepulan asap menjadi prioritas agar dampak karhutla terhadap lingkungan, kesehatan, dan aktivitas masyarakat dapat diminimalkan.