{"id":27716,"date":"2025-08-19T16:45:30","date_gmt":"2025-08-19T09:45:30","guid":{"rendered":"https:\/\/melanesiatimes.com\/?p=27716"},"modified":"2025-08-19T16:49:34","modified_gmt":"2025-08-19T09:49:34","slug":"hilirisasi-sagu-sbt-gimmick-politik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.lindonews.id\/?p=27716","title":{"rendered":"Hilirisasi Sagu di SBT Dinilai Hanya Gimmick Politik Fachri Husni Alkatiri"},"content":{"rendered":"<p data-start=\"796\" data-end=\"1110\"><span style=\"color: #800000;\"><strong>Melanesiatimes.com<\/strong> <\/span>&#8211; Praktisi Hukum sekaligus putra daerah Seram Bagian Timur (SBT), Fadli Rumakefing, melontarkan kritik tajam terhadap wacana hilirisasi sagu yang kerap digaungkan Bupati SBT, Fachri Husni Alkatiri. Menurutnya, ide tersebut belum punya pijakan kuat karena tidak didukung data akurat dan kesiapan industri di daerah.<\/p>\n<p data-start=\"1112\" data-end=\"1278\">\u201cMari kita realistis. Hilirisasi sagu yang selalu digaungkan Bupati Fachri hanyalah nyanyian kosong tanpa data,\u201d ujar Fadli dalam keterangannya, Selasa (19\/8\/2025).<\/p>\n<p data-start=\"1280\" data-end=\"1514\">Fadli menjelaskan, hilirisasi membutuhkan industri manufaktur yang terukur, mulai dari ketersediaan bahan baku, tenaga kerja, hingga dukungan teknologi. Karena itu, menurutnya, hilirisasi sagu tidak bisa sekadar jadi jargon politik.<\/p>\n<p data-start=\"1516\" data-end=\"1739\">\u201cKalau serius mau hilirisasi, pertanyaannya jelas: berapa luas lahan sagu di SBT? berapa potensi produksinya tiap bulan? dan sejauh mana budidaya dilakukan? Tanpa itu semua, hilirisasi hanya jadi wacana kosong,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p data-start=\"1741\" data-end=\"1921\">Hingga kini, lanjut Fadli, pemerintah daerah belum memiliki data valid mengenai potensi sagu. Bahkan, ia menilai keberadaan industri manufaktur di SBT sama sekali belum terlihat.<\/p>\n<p data-start=\"1923\" data-end=\"2102\">Lebih jauh, mantan Ketum Badko HMI Jabodetabek-Banten itu juga menyindir gelar \u201cBang Sagu\u201d yang melekat pada Fachri. Menurutnya, sebutan itu tidak lebih dari pencitraan politik.<\/p>\n<p data-start=\"2104\" data-end=\"2223\">\u201cIni hanya panggung retorika. Tanpa data dan kerja nyata, hilirisasi sagu tak lebih dari nyanyian kosong,\u201d sindirnya.<\/p>\n<p data-start=\"2225\" data-end=\"2507\">Fadli menambahkan, jika dibandingkan dengan Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, SBT masih jauh tertinggal. Meranti diketahui memiliki 59.000 hektare lahan sagu, bahkan sudah membangun sentra industri kecil menengah (IKM) dengan kapasitas produksi hingga 400 ton per bulan.<\/p>\n<p data-start=\"2509\" data-end=\"2646\">Karena itu, ia mendesak agar pemimpin daerah berhenti menjual wacana populis dan mulai bekerja menyusun strategi konkret berbasis data.<\/p>\n<p data-start=\"2648\" data-end=\"2776\">\u201cSudah waktunya hentikan retorika. Kita butuh data, strategi, dan kerja nyata, bukan sekadar nyanyian politik,\u201d pungkas Fadli.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Melanesiatimes.com &#8211; Praktisi Hukum sekaligus putra daerah Seram Bagian Timur (SBT), Fadli Rumakefing, melontarkan kritik tajam terhadap wacana hilirisasi sagu yang kerap digaungkan Bupati SBT, Fachri Husni Alkatiri. Menurutnya, ide tersebut belum punya pijakan kuat karena tidak didukung data akurat dan kesiapan industri di daerah. \u201cMari kita realistis. Hilirisasi sagu yang selalu digaungkan Bupati Fachri [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3263],"tags":[],"class_list":["post-27716","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-melanesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.lindonews.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/27716","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.lindonews.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.lindonews.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.lindonews.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.lindonews.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=27716"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.lindonews.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/27716\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":27721,"href":"https:\/\/www.lindonews.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/27716\/revisions\/27721"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.lindonews.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=27716"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.lindonews.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=27716"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.lindonews.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=27716"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}