{"id":35631,"date":"2026-08-20T14:12:02","date_gmt":"2026-08-20T05:12:02","guid":{"rendered":"https:\/\/www.melanesiatimes.com\/?p=35631"},"modified":"2026-08-20T14:12:02","modified_gmt":"2026-08-20T05:12:02","slug":"81-tahun-indonesia-merdeka-bkprmi-dorong-gerakan-nasional-merdeka-dari-buta-aksara-al-quran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.lindonews.id\/?p=35631","title":{"rendered":"81 Tahun Indonesia Merdeka, BKPRMI Dorong Gerakan Nasional Merdeka dari Buta Aksara Al-Qur\u2019an"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"color: #800000;\"><strong>Melanesiatimes.com<\/strong><\/span>, <strong>Jakarta<\/strong> \u2013 Memasuki 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, persoalan literasi Al-Qur\u2019an masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian bersama. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, pendidikan dan akses informasi, kemampuan membaca Al-Qur\u2019an dinilai perlu ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan manusia Indonesia yang berkarakter dan berintegritas. Rabu (19\/8\/2026).<\/p>\n<p>Hal tersebut disampaikan Ketua Umum DPP Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI), H. Nanang Mubarok, S.H.I., M.Sos., CPHCM, CPE, CPM, melalui opini bertajuk \u201c81 Tahun Merdeka, Masihkah Anak Indonesia Buta Aksara Al-Qur\u2019an? Refleksi Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo dan Agenda Besar Pemuda Masjid.\u201d<\/p>\n<p>Nanang menilai, kemerdekaan tidak semata-mata dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan, tetapi juga terbebas dari kebodohan, keterbelakangan dan berbagai kondisi yang menghambat manusia untuk berkembang secara utuh.<\/p>\n<p>\u201cSudahkah seluruh anak Indonesia benar-benar merdeka dari buta aksara Al-Qur\u2019an?\u201d demikian pertanyaan reflektif yang diajukannya.<\/p>\n<p>Menurut Nanang, pertanyaan tersebut bukan dimaksudkan untuk menyalahkan pemerintah, sekolah, keluarga, guru mengaji maupun anak-anak. Sebaliknya, persoalan itu harus menjadi bahan evaluasi bersama mengenai kualitas pembangunan manusia Indonesia.<\/p>\n<p>Ia menyoroti angka sekitar 65 persen umat Islam Indonesia yang selama ini banyak dikutip dalam pembahasan mengenai buta aksara Al-Qur\u2019an. Namun, angka tersebut, menurutnya, perlu dibaca secara akademis dan proporsional karena bukan merupakan hasil sensus nasional terbaru yang secara khusus mengukur kemampuan seluruh anak Indonesia dalam membaca Al-Qur\u2019an.<\/p>\n<p>\u201cYang jauh lebih penting adalah memastikan berapa anak dan remaja yang belum mampu membaca Al-Qur\u2019an, di mana mereka berada, mengapa mereka belum mampu, dan apa intervensi yang paling efektif untuk membantu mereka,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Nanang juga menegaskan bahwa persoalan literasi Al-Qur\u2019an tidak hanya terjadi pada anak-anak di Taman Kanak-kanak Al-Qur\u2019an (TKA) maupun Taman Pendidikan Al-Qur\u2019an (TPA). Tantangan serupa bahkan masih ditemukan di lingkungan perguruan tinggi.<\/p>\n<p>Menurutnya, penelitian mengenai indeks kemampuan baca-tulis Al-Qur\u2019an mahasiswa UIN di Indonesia yang dilakukan tim peneliti LPMQ Kementerian Agama menunjukkan kemampuan baca-tulis Al-Qur\u2019an mahasiswa secara nasional berada pada tingkat sedang.<\/p>\n<p>\u201cArtinya, problem literasi Al-Qur\u2019an tidak otomatis selesai hanya karena seseorang telah melewati pendidikan dasar dan menengah. Kemampuan membaca Al-Qur\u2019an harus dibangun secara berkelanjutan,\u201d katanya.<\/p>\n<p><strong>Pembangunan Manusia dan Peran Pemuda Masjid<\/strong><\/p>\n<p>Nanang kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI, 14 Agustus 2026.<\/p>\n<p>Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menekankan pentingnya pembangunan manusia sebagai salah satu penentu masa depan bangsa.<\/p>\n<p>\u201cPembangunan yang paling menentukan masa depan adalah pembangunan manusia,\u201d kata Presiden Prabowo dalam pidatonya.<\/p>\n<p>Bagi Nanang, pesan tersebut membuka ruang besar bagi masyarakat sipil, termasuk pemuda masjid, untuk mengambil bagian dalam pembangunan manusia.<\/p>\n<p>Ia menilai pembangunan manusia tidak cukup hanya berorientasi pada kesehatan fisik dan kecerdasan intelektual. Pembangunan juga harus memperkuat karakter, integritas dan fondasi spiritual.<\/p>\n<p>\u201cAnak yang kenyang harus mendapatkan pendidikan. Anak yang berpendidikan harus mendapatkan karakter. Anak yang cerdas harus memiliki integritas. Dan anak yang menguasai teknologi harus memiliki nilai yang membimbingnya menggunakan teknologi untuk kebaikan,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Karena itu, gerakan pemberantasan buta aksara Al-Qur\u2019an dinilai dapat menjadi bagian dari agenda pembangunan manusia Indonesia, khususnya dalam memperkuat karakter generasi muda.<\/p>\n<p><strong>Literasi Global Harus Berjalan Bersama Literasi Al-Qur\u2019an<\/strong><\/p>\n<p>Nanang juga menyoroti dorongan Presiden Prabowo agar pembelajaran bahasa asing diperkuat sejak pendidikan dasar. Menurutnya, kemampuan berbahasa asing penting untuk mempersiapkan generasi Indonesia menghadapi persaingan global.<\/p>\n<p>Namun, ia mengingatkan agar kemampuan global tersebut tetap berjalan beriringan dengan penguatan nilai dan karakter.<\/p>\n<p>\u201cJika anak Indonesia harus mampu membaca dunia dalam berbagai bahasa, bukankah anak Muslim Indonesia juga harus mampu membaca Al-Qur\u2019an sebagai sumber nilai kehidupannya?\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia menegaskan, literasi global tidak perlu dipertentangkan dengan literasi Al-Qur\u2019an. Keduanya justru harus berjalan beriringan.<\/p>\n<p>\u201cGlobal competence harus berjalan bersama spiritual competence. Digital literacy harus berjalan bersama Qur\u2019anic literacy. Kecerdasan intelektual harus berjalan bersama kecerdasan moral,\u201d tegas Nanang.<\/p>\n<p><strong>Masjid Dinilai Menjadi Basis Gerakan<\/strong><\/p>\n<p>Menurut Nanang, Indonesia memiliki modal sosial yang kuat untuk mengembangkan gerakan literasi Al-Qur\u2019an, yakni keberadaan masjid yang tersebar di berbagai wilayah.<\/p>\n<p>Ia menyebut keberadaan masjid, guru mengaji, pemuda dan remaja masjid serta lembaga seperti TAAM, TKA, TPA dan TQA sebagai infrastruktur sosial yang sudah tersedia di tengah masyarakat.<\/p>\n<p>Karena itu, yang diperlukan bukan semata-mata pembangunan infrastruktur baru, melainkan penguatan ekosistem melalui peningkatan kompetensi, standardisasi, pendataan, digitalisasi dan kolaborasi.<\/p>\n<p>BKPRMI melalui Lembaga Pembinaan dan Pengembangan TK Al-Qur\u2019an (LPPTKA), kata Nanang, telah lama berkontribusi dalam pengembangan pendidikan Al-Qur\u2019an melalui jaringan TKA, TPA dan TQA.<\/p>\n<p>\u201cGagasan ini bukan gagasan yang tiba-tiba muncul. Ia merupakan bagian dari DNA perjuangan BKPRMI sejak lama. Yang perlu dilakukan sekarang adalah membawa gerakan tersebut ke level baru,\u201d katanya.<\/p>\n<p><strong>Pemuda Masjid Diminta Naik Kelas<\/strong><\/p>\n<p>Nanang menilai pemuda masjid memiliki posisi strategis karena dekat dengan teknologi, kreativitas dan perubahan sosial. Peran mereka, menurutnya, tidak boleh berhenti sebagai panitia kegiatan keagamaan atau sekadar pengelola acara di masjid.<\/p>\n<p>Pemuda masjid didorong menjadi guru pendamping, mentor digital, pembuat konten edukasi Al-Qur\u2019an, penggerak komunitas, pengembang aplikasi, pengelola data hingga penghubung antara masjid dengan sekolah, pemerintah, dunia usaha dan masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cPemuda masjid harus menjadi social entrepreneur of faith. Mereka harus menjadi aktor perubahan sosial,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia juga mendorong transformasi pemuda masjid dari sekadar event organizer menjadi movement maker yang mampu menciptakan gerakan sosial secara berkelanjutan.<\/p>\n<p><strong>Dorong Digitalisasi Pendidikan Al-Qur\u2019an<\/strong><\/p>\n<p>Perkembangan teknologi pendidikan juga dinilai menjadi peluang besar dalam memperluas akses pembelajaran Al-Qur\u2019an.<\/p>\n<p>Nanang mempertanyakan mengapa konsep digitalisasi yang berkembang di sektor pendidikan belum dikembangkan secara lebih luas dalam ekosistem pembelajaran Al-Qur\u2019an berbasis masjid.<\/p>\n<p>Ia menawarkan sejumlah gagasan, antara lain Digital TPA, platform pembelajaran Al-Qur\u2019an, database nasional guru mengaji, pemetaan literasi Al-Qur\u2019an berbasis masjid serta kartu digital guru mengaji dan santri.<\/p>\n<p>\u201cTeknologi tidak boleh menjauhkan anak dari Al-Qur\u2019an. Teknologi justru harus menjadi jembatan anak menuju Al-Qur\u2019an,\u201d katanya.<\/p>\n<p><strong>Tujuh Agenda Nasional<\/strong><\/p>\n<p>Untuk menjadikan gerakan tersebut lebih konkret, Nanang menawarkan tujuh agenda nasional yang dapat dikembangkan bersama.<\/p>\n<p>Pertama, membangun satu data literasi Al-Qur\u2019an untuk memetakan kemampuan membaca Al-Qur\u2019an anak, remaja dan masyarakat.<\/p>\n<p>Kedua, mendorong setiap masjid memiliki satu program literasi Al-Qur\u2019an yang terstruktur dan berkelanjutan.<\/p>\n<p>Ketiga, meningkatkan kompetensi, pengakuan, sertifikasi serta kesejahteraan guru mengaji.<\/p>\n<p><strong>Keempat, melakukan digitalisasi TAAM, TKA, TPA dan TQA.<\/strong><\/p>\n<p>Kelima, menjadikan pemuda masjid sebagai Qur\u2019anic Literacy Volunteer di lingkungan masing-masing.<\/p>\n<p>Keenam, mengembangkan gerakan \u201cAl-Qur\u2019an untuk Semua\u201d tanpa diskriminasi berdasarkan kondisi ekonomi, wilayah, usia maupun latar sosial.<\/p>\n<p>Ketujuh, menjadikan Indonesia Emas 2045 sebagai target lahirnya generasi yang tidak hanya melek huruf, teknologi dan bahasa asing, tetapi juga melek Al-Qur\u2019an dan nilai-nilai kehidupan.<\/p>\n<p><strong>Dari Masjid untuk Indonesia Emas 2045<\/strong><\/p>\n<p>Nanang melihat terdapat kesesuaian antara arah pembangunan manusia yang disampaikan Presiden Prabowo dengan agenda yang selama ini dikembangkan BKPRMI.<\/p>\n<p>\u201cPresiden berbicara tentang pembangunan manusia. BKPRMI bergerak membangun manusia melalui masjid,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia juga menilai perhatian terhadap pendidikan, digitalisasi, anak-anak yang tidak boleh tertinggal, pemberdayaan ekonomi masyarakat dan gotong royong seluruh elemen bangsa memiliki keterkaitan erat dengan peran pemuda masjid.<\/p>\n<p>Menurutnya, pemuda masjid bukan berada di luar arus pembangunan nasional, melainkan merupakan bagian dari kekuatan masyarakat yang dapat ikut membangun kualitas manusia Indonesia.<\/p>\n<p>Karena itu, momentum 81 tahun kemerdekaan Indonesia dinilai menjadi waktu yang tepat untuk menggaungkan gerakan \u201cMerdeka dari Buta Aksara Al-Qur\u2019an\u201d sebagai gerakan sosial berbasis masjid.<\/p>\n<p>\u201cJika satu masjid membina puluhan anak, ribuan masjid membina ratusan ribu anak. Jika puluhan ribu masjid bergerak, jutaan anak dapat disentuh,\u201d kata Nanang.<\/p>\n<p>Ia berharap gerakan tersebut dapat melibatkan masjid, keluarga, sekolah, pesantren, pemerintah, organisasi masyarakat, perguruan tinggi dan dunia usaha sehingga menjadi gerakan bersama dalam membangun generasi Indonesia.<\/p>\n<p>\u201cDan bagi generasi Muslim Indonesia: merdeka dari buta aksara Al-Qur\u2019an,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Nanang menutup refleksinya dengan pesan bahwa kemerdekaan sejati harus menghasilkan manusia yang sehat, cerdas, produktif, berkarakter, berintegritas dan memiliki nilai spiritual yang kuat.<\/p>\n<p>\u201cDari masjid pemuda bergerak. Dari Al-Qur\u2019an karakter dibangun. Dari karakter peradaban dilahirkan,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<p>Menurutnya, dengan membangun generasi yang sehat, cerdas, berakhlak, mandiri dan berdaya saing, cita-cita Indonesia Emas 2045 bukan sekadar harapan, melainkan tujuan yang harus diperjuangkan bersama.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Melanesiatimes.com, Jakarta \u2013 Memasuki 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, persoalan literasi Al-Qur\u2019an masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian bersama. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, pendidikan dan akses informasi, kemampuan membaca Al-Qur\u2019an dinilai perlu ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan manusia Indonesia yang berkarakter dan berintegritas. Rabu (19\/8\/2026). Hal tersebut disampaikan Ketua Umum DPP Badan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6783],"tags":[6079],"class_list":["post-35631","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-reiligi","tag-bkprmi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.lindonews.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/35631","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.lindonews.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.lindonews.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.lindonews.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.lindonews.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=35631"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.lindonews.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/35631\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":35633,"href":"https:\/\/www.lindonews.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/35631\/revisions\/35633"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.lindonews.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=35631"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.lindonews.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=35631"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.lindonews.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=35631"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}